Apakah Isbal haram mutlak?


Apakah Isbal haram mutlak?

[Fatwa Syaikh Ali Jum’ah dalam Kitab Al-Bayan Al-Qowim]

Pengertian Isbal yang akan kita bahas adalah melabuhkan (memanjangkan) pakaian sampai ke tanah (di bawah mata kaki).

Isbal sarung merupakan ciri-ciri adanya sifat sombong dan takabbur, sedangkan sombong dan takabbur sendiri termasuk dosa besar, dosa yang diperbuat oleh hati, yang mampu menggelapkannya. Bahkan banyak orang sholih berkata: “Seringkali kemaksiatan yang menimbulkan sifat rendah diri dan membuat hati tersiksa, itu lebih baik dari pada melakukan ketaatan akan tetapi menimbulkan sifat sombong dan merasa mulia”.

Dari sisi agama, Isbal sendiri memiliki keterkaitan dengan sifat sombong, karena Rasulullah sendiri telah bersabda:

من جر ثوبه خيلاء لم ينظر الله إليه يوم القيامة. فقال أبو بكر إن أحد شقي ثوبي يسترخي إلا أن أتعاهد ذلك منه؟ فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم إنك لن تصنع ذلك خيلاء

“Barangsiapa melabuhkan pakaiannya karena khuyala’ (sombong), kelak di hari kiamat Allah tidak akan melihatnya”. Lalu Abu Bakar berkata: “Sungguh salah satu dari sisi pakaianku menjulur ke bawah, kecuali jika aku selalu menjaganya”, Rasulullah pun bersabda; “Sungguh kamu tidak berbuat demikian karena sombong”.

Oleh karena itu, melabuhkan pakaian dan memanjangkannya hingga ke tanah, hukum asalnya tidak haram, menjadi diharamkan karena hal tersebut berkonotasi adanya kesombongan,dan konotasi tersebut memang ada dalam adat orang-orang pada zaman nabi. Oleh karena itu, para ulama’ sepakat tentang keharaman takabbur dan menyombongkan diri, baik disebabkan pakaian maupun perkara lain, tetapi ada perbedaan pendapat di antara mereka tentang hukum melabuhkan pakaian.Ketika hal itu disebabkan adanya kesombongan ataupun takabbur maka diharamkan, karena kesombongan tersebut.Sedangkan ketika tidak demikian, maka hukumnya tidak haram. Mereka mengatakan bahwa hukumnya hanya sebatas makruh, karena dengan perbuatannya tersebut, ia menyerupai orang-orang sombong. Sebab, orang-orang yang sombong pada zaman itu melakukan Isbal. Oleh karena itu, ketikamenyerupai mereka tanpa ada tujuan menyombongkan diri, hukumnya makruh, sedangkan apabila disertai rasa sombong, maka jelas haram, sebagaimana keterangan di atas.

Pendapat di atas adalah pendapat mayoritas ulama’ dan telah di-nash oleh para imam madzhab.

Syaikh al-Bahuty berkata: “Apabila seseorang melabuhkan pakaiannya karena hajat, seperti menutupi betis yang jelek dengan tanpa ada tujuan menyombongkan diri, maka hal tersebut diperbolehkan”.

Dalam satu riwayat, imam Ahmad ibn Hanbal berkata: “Memanjangkan sarung dan melabuhkan jubah atau selendang saat shalat, hukumnya diperbolehkan apabila tidak ada tujuan menyombongkan diri”.

Asy-Syaukany berkata: “Secara tekstual, pensyaratan lafadz khuyala’ dalam hadits Rasulullah menunjukkan bahwa melabuhkan pakaian tanpaada tujuan khuyala’ tidak masuk dalam ancaman hadits tersebut”

Ibn Abd al-Bar berkata: “Dari hadits tersebut bisa dipahami bahwa orang yang melabuhkan pakaiannya dengan tanpa tujuan khuyala’, tidak terkena ancaman tersebut, hanya saja ia tercela”.

An-Nawawy berkata: “Hal tersebut adalah makruh, ini adalah nash-nya imam asy-Syafi’i”.

dalam kitab Mukhtashor, menukil dari imam asy-Syafi’i, Al-buwaithy berkata: “Tidak diperbolehkan melabuhkan pakaian saat shalat maupun tidak, sedangkan tanpa tujuan khuyala’, hal tersebut hanyalah masalah kecil, berdasarkan sabda Nabi kepada Abu Bakar”.

Bisa kita simpulkan bahwa hukum melabuhkan pakaian tanpa tujuan khuyala’ bukanlah hal yang terlarang, sebagaimana pendapat imam Ahmad ibn Hanbal, adapun yang diharamkan adalah karena khuyala’ dan takabbur, meskipun tidak diwujudkan dengan cara melabuhkan pakaian. Pendapat ini adalah yang paling kuat. Akan tetapi, apa yang berlaku di masyarakat telah berubah, kini orang-orang yang sombong tidak lagi memiliki kebiasaan melabuhkan pakaian. Oleh karena itu, pada zaman sekarang, melabuhkan pakaian tidak bisa kita katakan bahwa hal tersebut menyerupai orang –orang yang sombong. Wallahu ta’ala a’la waa’lam…

Leave a comment

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *