Berdialog Dengan Hati


gambar-Ilustrasi-Air-Berbentuk-Hati

عن أبي عبد الله النعمان بن بشير رضي الله عنهما قال : سمعت رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم يقول إن الحلال بين وإن الحرام بين وبينهما أمور مشتبهات لا يعلمهن كثير من الناس فمن اتقى الشبهات فقد استبرأ لدينه وعرضه ومن وقع في الشبهات وقع في الحرام كالراعي يرعى حول الحمى يوشك أن يرتع فيه ألا وإن لكل ملك حمى ألا وإن حمى الله محارمه ألا وإن في الجسد مضغة إذا صلحت صلح الجسد كله وإذا فسدت فسد الجسد كله ألا وهي القلب رواه البخاري ومسلم

“Dari Abi ‘Abdillah Nu’man bin Basyir ra. dia berkata, aku mendengar Rosulullah saw. Bersabda “sesungguhnya yang halal itu sudah jelas dan yang haram itu sudah jelas. Diantara keduanya terdapat hal-hal syubhat (samar) yang tidak diketahui oleh orang banyak. Maka barangsiapa yang takut (menghindari) hal-hal syubhat, dia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya. Dan barangsiapa yang terjerumus dalam hal-hal syubhat, maka akan terjerumus dalam hal-hal yang diharamkan sebagaimana penggembala yang menggembalakan hewan gembalaanya disekitar (ladang) yang dilarang memasukinya. Ketahuilah! Bahwa sesungguhnya setiap raja itu memiliki larangan dan larangan Allah swt. adalah apa yang Dia haramkan. Ketahuilah! Bahwa didalam diri manusia terdapat segumpal daging, jika baik maka baiklah seluruh tubuhnya. Dan jika buruk maka buruklah seluruh tubuhnya. Ketahuilah! Bahwa segumpal daging itu adalah hati.” HR. Bukhori dan Muslim.

Adalah sesuatu yang rasional apabila banyak orang menganggap hati itu ibarat raja sedangkan anggota tubuh lainnya adalah pasukannya. Kemanapun arah pasukan itu berjalan, disana ada raja yang bermain sebagai instruktur dan bertanggungjawab penuh terhadap apapun yang terjadi dengan pasukannya. Jika instruksi raja berorientasi kepada kebaikan maka niscaya gerak langkah pasukannya pun akan berjalan diatas nilai-nilai kebaikan, begitu juga dengan sebaliknya. Sangat urgennya peran hati dalam menentukan baik dan tidaknya aktivitas seseorang, maka jauh-jauh hari Nabi Muhammad saw. telah memberikan warning terhadap hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits diatas.

Berdialog dengan hati adalah cara yang paling efektif dalam memanage bisikan hati dengan mizan nabawi sebelum bisikan itu terejawantahkan dalam kehidupan nyata. Karena disamping hati sebagai muara informasi yang diterima oleh seseorang, hati juga sangat potensial bersuara lantang meneriakkan sikap atas informasi tersebut. Suara hati yang baik akan melahirkan sosok pribadi yang berkarakter baik, begitu pula dengan sebaliknya. Ibnu Rojab al-Hanbali mengatakan, “hadits diatas memberikan isyarat bahwa kebaikan ihwal seseorang, keinginan untuk menjauhi perkara-perkara yang diharamkan dan kesanggupannya untuk meninggalkan hal-hal yang berbau syubhat itu sangat tergantung pada ihwal hatinya. Apabila hatinya bersih, tulus mencintai dan memprioritaskan Allah diatas segalanya disertai dengan rasa takut terjerumus dalam hal-hal yang dibenci-Nya, maka niscaya ihwal tubuhnya pun akan menjadi baik. Dari sanalah akan tumbuh sikap menjauhi segala macam keharaman dan sikap memproteksi diri dari perkara yang syubhat untuk menghindarkannya dari hal-hal yang diharamkan.” Oleh karenanya manusia dengan segudang potensi yang dimilikinya dituntut untuk cermat dan cerdas dalam memfilter bisikan hati yang bebas berteriak dan bergejolak tanpa henti.

Dialog interaktif dengan hati dapat memberikan sensasi tersendiri bagi para penikmatnya. Tantangan yang disuguhkan tidak hanya sekedar tantangan biasa. Pergulatan pemikiran serta kecakapan dalam memfungsikan skala prioritas secara proporsional adalah hal primer didalamnya. Untuk lebih mengenali dan memahami aktivitas hati tersebut, para ulama’ telah memberikan uraian ilustratif perjalanan bisikan hati dari tahap ke tahap sebelum endingnya teraktualisasikan secara nyata. Sehingga dengan demikian kita akan tahu darimana kita harus memulai berdialog, mengibarkan bendera perubahan dan mengarahkannya kepada hal-hal yang positif. Para ulama’ menyebutkan bahwa ada lima fase yang harus dilewati oleh bisikan hati, yaitu :

  1. Hajis.

Hajis adalah bisikan yang terlintas pertama kali dalam hati. Dalam fase ini seseorang tidak akan bisa menolak terbesitnya bisikan tersebut, karena kehadirannya langsung dari Sang Maha Pencipta, tidak ada sedikitpun intervensi manusia didalamnya.

  1. Khothir.

Khothir adalah fase berjalannya bisikan hati tersebut secara netral sebagai kelanjutan dari hajis. Pada tahapan ini, manusia diberikan kesempatan untuk meresponnya, apakah membiarkannya ada ataukah mengenyahkannya dari hati.

  1. Hadits an-nafs.

Hadits an-nafs adalah fase lanjutan yang merespon pembiaran bisikan hati tersebut. Sehingga dalam fase ini akan timbul kebimbangan dalam menentukan pilihan, apakah dirinya harus melakukannya ataukah meninggalkannya.

  1. Hamm.

Hamm adalah fase memprioritaskan salah satu dari dua pilihan tersebut. Setelah sebelumnya bisikan hati itu melewati proses penggodokan dalam hadits an-nafs dengan mempertimbangkan semua aspek yang terkait, maka pada fase ini bisikan hati akan mendapatkan kejelasan satu pilihan yang telah ditentukannya meskipun belum final.

  1. ‘Azm.

Setelah mendapatkan satu pilihan dalam fase keempat, pilihan itu akan digiring masuk dalam fase ‘azm, yaitu fase pemantapan dan pengukuhan, sehingga pilihan itu benar-benar final dan siap untuk bertransformasi menjadi tindakan nyata.

Dari kelima fase tersebut, fase kedua (khothir) adalah fase yang paling tepat untuk memulai dialog interaktif dengan hati, menghembuskan nafas perubahan dan menciptakan olah pikir positif. Karena pada saat itulah manusia diberikan kesempatan untuk mengenyahkannya dari hati ataukah membiarkannya ada dan memfilter segala gejolak yang terjadi demi membawa bisikan hati itu kepada jalan yang positif. Meskipun secara logika aktivitas perubahan dan doktrin positif ini juga dapat terjadi dalam fase-fase selanjutnya, akan tetapi ada beberapa kelebihan yang dimiliki fase kedua daripada fase-fase setelahnya. Diantaranya adalah netralitas bisikan hati tersebut pada fase kedua. Tidak adanya intervensi dan bersihnya bisikan hati itu dari terkontaminasi perkara lain, membuatnya mudah untuk diluruskan dengan doktrin-doktrin normatif yang berlandaskan pada mizan nabawi, sehingga dapat dengan mudah mengalahkan gejolak negatif yang banyak bercokol saat melewati fase-fase setelahnya. Oleh karena itu, tancapkanlah bendera perubahan dari sini dan tiuplah angin positif disetiap bendera itu berkibar!. (n@sda)