Fatwa Alkohol


alkohol

Rekomendasi dari seminar ke-VIII yang diselenggarakan oleh organisasi ilmu kedokteran Islam Kwait.

Pada tanggal 22-24 Dzil Hijjah 1415 H./22-24 Mei 1995 M. dan diikuti oleh: Al-Azhar University, Lembaga Kajian Fiqh Islam sedunia di Jeddah dan kantor cabang Organisasi Kesehatan Dunia WHO (Word Health Organisation), tentang: bahan makanan serta obat-obatan yang  najis dan diharamkan:

  1. Setiap muslim bekewajiban melaksanakan hukum-hukum Islam, terlebih yang berkenaan dengan makanan dan obat-obatan. Sehingga terwujud pola makanan, minuman serta pengobatan yang baik. Termasuk rahmat Allah atas hambanya, serta kemudahan agar bisa selalu melaksanakan syari’at-Nya adalah kaidah dasar syari’at yang selalu mempertimbangkan dan memperhatikan “kondisi terpaksa” (al-dlarurat) dan kebutuhan yang merata (al-hajjah al-ammah). Kaidah dasar tersebut adalah :
  2. kondisi mendesak (al dlorurat) dapat membolehkan sesuatu yang dilarang.
  3. Kebutuhan yang tidak dapat dielakkan dapat dianggap sebagai kondisi yang mendesak.
  4. Hukum asal segala sesuatu adalah boleh selama tidak ada dalil yang menunjukkan keharamnnya.
  5. Sebagaimana hukum asal segala sesuatu adalah suci selama tidak ada dalil yang menerangkan kenajisannya. Keharaman pada suatu barang tertentu tidak secara otomatis dapat dijadikan dalil hukum kenajisannya.
  6. Atas dasar ini pula, alkohol tidak najis, baik yang masih murni atau pun yang sudah bercampur dengan air. Berdasarkan pada sebuah pendapat; bahwa hukum najis pada khamr serta materi-materi lain yang memabukkan, tidak bersifat kebendaan (hissy), hanya secara moral (ma’nawi) harus dijauhi karena diangap sebagai perbuatan kotor setan.

Atas dasar ini pula, tidak ada larangan untuk menggunakan alkohol sebagai alat bantu medis seperti untuk membersihkan kulit (luka), membersihkan peralatan medis, atau digunakan untuk membunuh kuman. Diperbolehkan juga pemakaian parfum (eau de cologne) serta alat kosmetik yang dalam komposisinya terdapat kandungan alkohol. Dalam hal ini alkohol tidak bisa disamakan dengan khamr. Karena keharaman penggunaan khamr amat jelas.

  1. Sebagai materi yang memabukkan, maka alkohol tidak boleh (haram) dikonsmusi. Dan selama yakin dalam proses pembuatan obat-obatan tidak terdapat kandungan alkohol kecuali dengan kadar yang sangat sedikit, sebatas sebagai bahan pengawet atau pelarut bahan obat-obatan yang tidak dapat dilarutkan dalam air kecuali dengan menggunakan alkohol; maka boleh mengkonsumsi obat-obatan ini selama tidak ada alternatif obat-obatan lain yang non alkohol.
  2. tidak boleh mengkonsumsi makanan yang terdapat kandungan khamr, meski hanya sedikit. Sebagaimana yang beredar di neagara-negara Barat seperti pada sebagian produk cokelat, es krim, jelly dan sebagian minuman  yang bersoda. Menimbang hukum asal bahwa segala sesuatu yang memabukkan (baik sedikit atau pun banyak) adalah haram, ditambah masih dalam keadaan ikhtiar(tidak dalam kondisi terpaksa).
  3. Boleh mengkonsmsi makanan yang dalam proses pembuatannya menggunakan sedikit alkohol untuk melarutkan bahan-bahannya, yang tidak dapat dilarutkan dengan air. Seperti zat pewarna, pengawet atau yang lain. Selain karena sudah menjadi kebiasaan (umum al-balwa), sebagian besar alkohol tersebut menguap ketika masih dalam proses pembuatan.
  4. Makanan yang dalam komposisinya terdapat lemak babi (yang tidak mengalami proses pengalihan rupa atau istihalah), seperti sebagian produk keju, mentega, biskuit, cokelat, es krim dll.; haram dan tidak boleh dikonsumsi, dengan menimbang kesepakatan (ijma’) para pakar (ahlu al-ilm) tentang kenajisan lemak babi dan ketidak bolehannya dimakan serta tidak dalam kondisi mendesak (idlthirar).
  5. Insulin (obat diabetes, terbuat dari babi) boleh dikonsumsi penderita diabetes sebagai obat. Karena darurat dengan beberapa ketentuannya.
  6. Proses pengalihan rupa (istihalah), yang menyebabkan perubahan suatu zat kepada zat yang lain yang (benar-benar) berbeda; dapat menjadikan benda najis menjadi suci atau dari yang diharamkan menjadi boleh.

Atas dasar ini maka:

  1. Jelly yang terbuat dari tulang, kulit dan daging hewan najis yang telah mengalami proses istihalah(pengalihan rupa) adalah suci dan halal dikonsumsi.
  2. Sabun yang terbuat dari lemak babi atau bangkai menjadi suci karena proses istihalah, serta boleh dipakai.
  3. Keju yang terbuat dari zat (pada perut) hewan yang halal dimakan, suci dan boleh dikonsumsi.
  4. Obat gosok dan alat kosmetik yang komposisinya terdapat lemak babi tidak boleh digunakan kecuali setelah terjadi proses isihalah(perubahan dzat), dan jika tidak terjadi proses istihalahmaka najis.
  5. Obat bius (narkotika) haram dan tidak boleh dikonsumsi kecuali untuk alat bantu pengobatan medis serta dengan kadar yang telah ditetapkan oleh dokter. Dan jika dipandang dari sisi barangnya (dzat) ia adalah suci.

Boleh menggunakan juzah al thib (sejenis buah pala yang dapat memabukkan) dan sejenisnya sebagai pelezat makanan dengan kadar sedikit, tidak sampai pada kadar yang dapat menyebabkan pusing.

Fatwa ini pernah dimuat dalam Jurnal Teras Pesantren

Editor : MA. Ubaidillah