FIKIH PRIORITAS; Telaah Konstruktif Pemikiran Umat [1]


Mukaddimah

Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa hegemoni globalisasi telah melahirkan paradigma baru dalam dinamika sosial. Disorientasi pemikiran serta pudarnya skala prioritas keislaman adalah salah satu implikasi nyata yang banyak mengundang perhatian para cendekiawan muslim. Alih-alih nafas globalisasi yang disinyalir kuat dapat menyulut spirit reformasi intelektual dan spiritual, justru kehadirannya kian dilematis dan kehilangan arah. Pasalnya, implikasi riil pudarnya skala prioritas ini telah merambah masuk di pelbagai aspek, baik materi maupun non materi, seperti moral, interaksi sosial, pendidikan, perpolitikan dan lain sebagainya. Bahkan aktivitas peribadatan sebagai salah satu aspek fundamental terciptanya manusia juga tidak luput darinya, sehingga banyak ketimpangan di pelbagai lini kehidupan, disparitas sosial dan kecenderungan yang keluar dari norma Islam.

Pada hakikatnya kebahagiaan dunia dan akhirat adalah tujuan utama yang didambakan oleh setiap insan. Dalam menggapai misi mulia tersebut, banyak dari mereka yang tidak kenal lelah bekerja siang malam, berkonsultasi dengan berbagai pihak yang berkompeten dan rela menggelontorkan materi yang tidak bisa dibilang sedikit demi pemenuhan hajat individu. Akan tetapi motivasi positif baik intrinsik maupun ekstrinsik tersebut sering kali tidak diimplementasikan dengan jalan yang positif pula. Skala prioritas yang telah digariskan oleh syari’at Islam dalam al-Qur’an dan Hadits sebagai referensi primer setiap ihwal kehidupan manusia lebih banyak dikesampingkan dengan menuhankan aspek materi sebagai prioritas utama. Kita tidak bisa menutup mata bahwa aktivitas pendidikan berbasis duniawi lebih mendapatkan perhatian daripada aktivitas belajar mengajar berbasis ilmu agama, pengembangan aspek jasmani lebih diprioritaskan daripada rekonstruksi mental dan moral keislaman serta beberapa fakta pudarnya skala prioritas keislaman lainnya.

Dr. Wahbah az-Zuhaily dalam kitabnya “al-Qur’an al-Karim Bunyatuhu at-Tasyri’iyyah Wa   Khoshoishuhu al-Chadloriyyah“ menyatakan bahwa kerancuan pemikiran tersebut disebabkan oleh keengganan umat muslim untuk menempatkan norma-norma al-Qur’an dan Hadits sebagai skala prioritas primer dalam mengambil setiap kebijakan. Al-Qur’an sebagai kitab samawi paripurna bukanlah kitab dongeng masa lalu atau kitab bacaan yang harus stagnan dalam posisi tersebut. Allah swt. berfirman,

“Dan kami turunkan kepadamu Al Kitab (AlQuran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.”

Disorientasi pemikiran inilah yang menjadi faktor paling urgen dalam melahirkan kehidupan yang tidak proporsional dan tidak bermartabat dalam perspektif Islam meskipun hal-hal kasuistik tersebut bukanlah pionir generalisasi sebuah hukum.

Definisi Fikih Prioritas

Sebagai salah satu produk pemikiran yang berusaha menjawab problematika aktual, kajian tentang fikih merupakan kajian yang akan terus mengalami perkembangan seiring dengan roda zaman yang terus berevolusi. Dari sosiohistorisnya, disiplin ilmu fikih pada awalnya merupakan disipliner yang fokus mengkaji semua aspek yang berkaitan dengan interaksi manusia baik vertikal maupun horizontal. Akan tetapi seiring dengan peradaban yang terus berkembang, kajian ilmu fikih kini telah mengalami spesifikasi tema dan kajian, seperti fiqh ubudiyyah (fikih ibadah), fiqh mu’amalah (fikih transaksi), fiqh jinayah (fikih tindak pidana), fikih kontemporer, fiqh al-I’tilaf wa al-Ikhtilaf (Fikih harmonitas pendapat dan perbedaan pandangan), fiqh al-Muwajahah (Fikih Konfrontasi) dan lain sebagainya.

Salah satu diantara kajian kekinan adalah fiqh aulawiyyat atau yang populer dengan term fikih prioritas. Menurut Muhammad al-Wakily, fikih prioritas (fiqh al-aulawiyyat) adalah pengetahuan tentang skala prioritas dalam hukum syari’at yang didasarkan pada pengetahuan gradasi dan realitas sosial yang melingkupinya. Dari definisi tersebut dapat diketahui bahwa ada tiga aspek fundamental yang ada dalam kajian fikih prioritas, yaitu pengetahuan hukum-hukum syari’at beserta tingkat prioritasnya, barometer tarjih sebuah hukum atas yang lain serta kondisi lingkungan sosial di sekitarnya. Sedangkan dalam pandangan Dr. Yusuf Qordlowy, secara definitif fikih prioritas adalah meletakkan segala sesuatu pada peringkatnya dengan adil dari segi hukum, nilai, dan teknis pelaksanaannya. Menurut hemat penulis, dari dua definisi tersebut secara substantif tidak ada kontradiksi karena dalam domain aplikatif fikih prioritas berupaya untuk meletakkan segala sesuatu pada tempat dan gradasinya secara adil dan proporsional sesuai dengan mizan syari’at dan realitas sosial di sekitarnya.

Spirit Fikih Prioritas

Dalam rentang sejarah pemikiran keislaman, fikih prioritas lahir sebagai apresiasi kegerahan umat dalam menjalani realitas kehidupan yang jauh dari norma-norma keislaman. Banyaknya ketimpangan dan pergeseran nilai urgensitas di berbagai aspek menjadi bukti nyata lemahnya ghiroh islamiyyah dalam narasi kehidupan mereka. Diantaranya, fenomena semangat dzikir kolektif yang menjamur tapi tidak dibarengi dengan semangat Islam Kaaffah dalam mengaplikasikan syari’at Islam. Banyak ahli ibadah berlalu lalang kesana kemari untuk melaksanankan ibadah tapi aktivitas ghibah, namimah dan lainnya tidak pernah berhenti. Ibarat kata, gajah di pelupuk mata tidak tampak, tapi kuman di seberang lautan tampak.

Pada dasarnya memprioritaskan yang terbaik dan menghindari segala sesuatu yang berpotensi besar mendatangkan marabahaya itu sudah menjadi tabi’at manusia sejak lahir. Dalam diri manusia terdapat akal yang berfungsi sebagai filter baik dan tidaknya sebuah perkara dari pelbagai aspek, sehingga dengan potensi tersebut manusia dapat menciptakan manage komparatif antara sesuatu yang bermanfaat dan berbahaya bagi dirinya sendiri maupun orang lain. Meski sudah menjadi tabi’at, gradasi prioritas dalam diri manusia itu tidaklah sama. Sejarah mencatat bahwa pada masa Rosulullah saw. banyak para sahabat yang sangat antusias datang menghadap Nabi untuk menanyakan amal perbuatan yang paling utama sebagai media mendekatkan diri mereka kepada Sang pencipta. Oleh karenanya, tidak heran jika banyak hadits yang menjelaskan amal perbuatan yang paling utama dan berbeda-beda antara para sahabat. Perbedaan yang sekilas tampak disharmoni tersebut secara prinsipiil bukanlah cermin kontradiktif dan sikap inkonsisten Nabi, melainkan faktor perbedaan basic dan tabiat mereka sehingga menuntut skala prioritas yang juga berbeda. Dalam hadits disebutkan,

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال سئل النبي صلى الله عليه وسلم أي الأعمال أفضل قال إيمان بالله ورسوله قيل ثم ماذا قال جهاد في سبيل الله قيل ثم ماذا قال حج مبرور رواه البخاري

“Dari Abu Hurairah ra. ia berkata “Nabi ditanya tentang amal apakah yang paling utama? Nabi menjawab, “Beriman kepada Allah dan rasul-Nya”. Kemudian dikatakan, “Lalu apa?”. Nabi menjawab, “Jihad di jalan Allah”. Kemudian dikatakan, “Lalu apa?”. Nabi menjawab, “Haji yang mabrur”. HR. Bukhori.

عن ابن مسعود رضي الله عنه أن رجلا سأل النبي صلى الله عليه وسلم أي الأعمال أفضل قال الصلاة لوقتها وبر الوالدين ثم الجهاد في سبيل الله  رواه البخاري

“Dari Ibnu Mas’ud ra. ia berkata “Sesungguhnya ada seorang laki-laki yang bertanya kepada Nabi tentang amal apakah yang paling utama? Nabi menjawab, “Sholat tepat waktu dan berbakti kepada orang tua kemudian jihad di jalan Allah”. HR. Bukhori.

Dua hadits diatas sekilas tampak paradoks, tetapi pada hakikatnya tidak ada sedikitpun celah kontradiksi diantara keduanya. Perbedaan jawaban Nabi dalam dua hadits tersebut lebih dilatarbelakangi oleh perbedaan faktor sosial dan tabiat laki-laki yang bertanya sehingga prioritas yang diberikan Nabi juga berbeda sesuai dengan karakter masing-masing.

Bersambung ….

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *