FIKIH PRIORITAS; Telaah Konstruktif Pemikiran Umat [3]


Antara Kualitas Dan Kuantitas

Saat ini umat Islam dihadapkan pada problem tingginya prioritas terhadap aspek kuantitas, sedangkan aspek kualitas cenderung dikesampingkan. Jika problematika ini dibiarkan berlarut-larut tentunya akan menjadi boomerang yang dapat memukul mundur eksistensi Islam dalam mewarnai peradaban. Fenomena ini sudah seharusnya disikapi lebih serius oleh internal umat Islam untuk mereformasi tatanan kehidupan ke arah yang lebih baik.

Apabila tingkat kualitas dan kuantitas bisa sama-sama baik, tentu hal ini adalah sebuah idealisme. Akan tetapi, tidak semua aspek termasuk manusia sebagai subyek bisa selalu idealis. Sangat realistis jika nalar manusia lebih memprioritaskan kualitas meski dalam aplikasinya bisa juga kuantitas harus diprioritaskan dengan pertimbangan tertentu. Meski demikian, hal ini tidaklah menghilangkan hal asasi yang menjadi prinsip syari’at, yakni urgensi memprioritaskan kualitas daripada kuantitas.

Ketika Thalut dan bala tentaranya menyaksikan pasukan Jalut dalam jumlah besar, seketika mereka pesimistis seakan tidak ada kekuatan lagi bagi mereka untuk melawan Jalut dan bala tentaranya. Namun orang-orang yang yakin akan kemahabesaran Allah swt. justru mereka merasakan sebaliknya. Optimistis yang tinggi disertai dengan kualitas keimanan yang kuat menjadikan mereka tidak gentar sedikitpun melawan musuh meski mereka hanya berjumlah sedikit dan tidak sebanding dengan kekuatan musuh. Peristiwa ini tercover jelas dalam al-Qur’an, Allah swt. berfirman yang artinya,

“Maka tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman bersama Dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata: “Tak ada kesanggupan Kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya.” orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah, berkata: “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. dan Allah beserta orang-orang yang sabar.”

Dalam peristiwa perang Badar, jumlah tentara muslim yang hanya berjumlah 313 orang sangatlah tidak sebanding dengan jumlah tentara kafir yang berjumlah lebih dari seribu orang. Dalam hitungan matematika, dengan kuantitas yang minim sangatlah mustahil tentara muslim berhasil memenangkan peperangan. Namun karena kualitas keimanan yang begitu kuat, mereka berhasil meraih kemenangan berkat pertolongan Allah swt.

Dari kisah inspiratif tersebut, dapat kita konklusikan bahwa pasukan yang berkulitas di bidangnya masing-masing berpeluang besar memenangkan perlawanan terhadap pasukan yang jauh lebih besar kuantitasnya namun dengan kualitas yang sebaliknya. Ibarat kapal laut sebagai organisasi dakwah, memiliki awak kapal dalam jumlah sedikit namun semuanya mahir dalam mendayung akan membuat kapal tersebut melaju ke arah tujuan yang semestinya. Sedangkan awak kapal yang berjumlah banyak tetapi tidak berkualitas justru akan menenggelamkan kapal itu sendiri karena bebannya sendiri.

Dari sini jelas sekali urgensitas kaderisasi yang berkualitas daripada fokus pada angka kuantitas yang tak berkualitas. Setiap perubahan tidak membutuhkan banyak orang, tapi cukup dengan kualitas dan komitmen yang tinggi. Jumlah yang besar tanpa komitmen tidaklah berarti apa-apa. Dan sebaliknya, kuantitas minim dengan loyalitas dan semangat yang tinggi justru akan membawa perubahan berarti.

 

Penutup

Islam adalah agama samawi yang diwahyukan Allah swt. untuk menjawab segala problematika keumatan. Dengan bimbingan agama, manusia diharapkan dapat menjalani segala aktivitas kehidupannya diatas garis Islam Kaffah karena Islam adalah agama yang pasti dan benar. Dengan kata lain, agama diwahyukan untuk manusia, bukan manusia tercipta untuk kepentingan agama. Satu-satunya kunci kebahagiaan adalah dengan mengikuti petunjuk Allah dan Rosul-Nya. Mustahil kebahagiaan akan kita rengkuh manakala kita menyimpang dari petunjuk al-Qur’an dan Hadits.

Muhammad Amin al-Harory menegaskan bahwa dengan ajaran al-Qur’an yang universal, segala sesuatu yang berkaitan dengan aspek keagamaan maupun hajat hidup umat manusia sudah tertuang didalamnya baik secara eksplisit maupun implisit melalui klarifikasi Hadits Nabi, konsensus ulama’ atau hukum analogi. Dengan demikian, apabila umat Islam tidak memiliki pemahaman yang komprehensif tentang skala prioritas sebuah amal, maka bukan mustahil jika kemajuan Islam tidak akan pernah tercapai. Oleh karena itu, mereduksi nilai-nilai prioritas yang telah mendapatkan legitimasi syari’at adalah hal yang dilarang dalam Islam. Dan sebaliknya, merekonstruksi pemikiran umat dengan membumikan skala prioritas keislaman dalam kerangka analisis rasional adalah sebuah keharusan.[]

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *