GELAPNYA HATI SEBAB MENERJANG DAN MEREMEHKAN LARANGAN-LARANGAN AGAMA


taubat

كَلا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ (١٤)

 

Artinya: “Sekali-kali tidak, bahkan apa yang mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.” (QS. Al-Muthoffifin, 14)

Ayat di atas menegaskan kepada kita bahwa kemaksiatan yang dilakukan oleh seorang hamba akan menutup hatinya, sehingga ia tidak dapat membedakan antara kebenaran dan kebatilan, dan pada akhirnya ia tidak dapat menerima kebenaran. Dalam Tafsirnya, Ar-Rozi menuqil pendapat Ar-Zujaj bahwa makna “ar-roinu” adalah menutup. Dikatakan, “Roona ‘ala qolbihi adz-dzanbu,” maknanya adalah “dosa telah menutupi hatinya.”

Allah Azza Wa Jalla melarang kita menerjang larangan-larangan-Nya, bahkan meremehkannya sekalipun. Tidaklah diperbolehkan bagi seorang hamba meremehkan perbuatan melakukan dosa-dosa kecil, terlebih dosa-dosa besar, dan juga perbuatan-perbuatan makruh, bahkan khilaful aula sekalipun.

Kita tidak diperbolehkan terus-menerus (ishror) melakukan dosa, akan tetapi kita harus segera bertaubat. Karena, terus-menerus melakukan maksiat atau hal-hal yang mendekati maksiat akan menyebabkan hati menjadi gelap, sehingga hati sulit  dan berat melakukan sesuatu yang di dalamnya terdapat kebaikan.

Gelapnya hati seseorang memiliki kadar yang berbeda. Terkadang sebagian orang tidak merasakan kegelapan hatinya kecuali ketika ia melakukan dosa-dosa besar, bukan dosa kecil. Terkadang sebagian orang tidak merasakan kegelapan hatinya kecuali ketika melakukan dosa-dosa kecil, bukan hal-hal yang makruh. Dan, terkadang ada juga sebagian orang yang tidak merasakan kegelapan hatinya kecuali ketika melakukan hal-hal makruh, bukan hal-hal yang khilaful aula. Semua itu sesuai maqom (derajat) ditempati oleh masing-masing orang.

Ketika hati jernih, maka tampaklah kegelapan dalam hati, dan seseorang akan menemukan kegelapan tersebut seperti tinta yang ada di atas kertas, dan ketika hati keruh, maka kegelapan tersebut akan menjadi samar.

Seorang hamba haruslah selalu menyibukkan dirinya untuk melakukan ketaatan, sehingga hatinya dipenuhi dengan cahaya petunjuk dan terhindar dari dosa-dosa.

Turmudzi meriwayatkan –beliau  berkata bahwa hadist ini shahih- dari Abu Hurairoh ra., beliau berkata bahwa Rosulullah saw. bersabda,

إِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا أَذْنَبَ ذَنْبًا كَانَتْ نُكْتَةً سَوْدَاءَ فِي قَلْبِهِ , فَإِنْ تَابَ وَنَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ صُقِلَ مِنْهَا قَلْبُهُ , فَإِنْ زَادَ زَادَتْ , حَتَّى يَعْلُوَ قَلْبَهُ , فَذَلِكَ الرَّانُ الَّذِي قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: {كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ} [المطففين: 14]

“Ketika seorang mukmin melakukan dosa, maka ada sebercak hitam dalam hatinya. Ketika dia bertaubat, kemudian berhenti melakukan dosa, dan memohon ampunan (kepada Allah), maka titik hitam tersebut akan hilang. Dan apabila seseorang menambah dosa, maka akan bertambah pula bercak hitam tersebut, sehingga hatinya akan tertutupi oleh bercak hitam.” Hal ini adalah

الرَّانُ
yang telah dituturkan Allah dalam kitab-Nya.

Untuk menghilangkan cercah hitam yang ada di hati sebab dosa yang kita lakukan, kita diharuskan untuk bertaubat. Dan agar konsisten dengan taubatnya, para hamba dianjurkan untuk menjauhi teman yang berperilaku buruk. Asy-Sya’roni –semoga rahmat Allah terlimpah untuknya- dalam kitabnya, Lawaqihul Anwar Al-Qudsiyyah, berkata, “Tidaklah taubat-taubat seorang hamba sempurna kecuali jika dia menjahui teman yang berperilaku buruk, agar mereka tidak menggoyahkan taubatnya sebab kemaksiatan mereka yang dia saksikan. Seseorang yang bertaubat dianjurkan bergaul dengan mereka yang selalu melakukan ketaatan, agar dia menyaksikan kataatan mereka, sehingga jiwanya dapat menjauhi perbuatan maksiat. Karena, pada dasarnya, watak seseorang dalam berperilaku baik maupun buruk tergantung dari pengaruh teman bergaulnya. Ketika kalian bergaul dengan seseorang dalam waktu yang lama, maka apa yang ada pada teman bergaul itulah yang akan berpindah pada kalian.”

Wallahu A’lam bisshowab

Ahmad Rifqi Azmi