Haul Masyayikh Sarang Mulai dari Gebyar Pesantren sampai Pengajian Akbar dan Tahlil Bersama


Sarang, (27/10/2015) Pondok Pesantren Ma’hadul Ilmi Assyar’i (PP-MIS) Sarang Rembang mengadakan acara haul masyayikh Sarang ke-61. Ada yang berbeda dalam rangkaian acara haul kali ini. Selain acara yang berlangsung selama empat hari berturut-turut, mulai dari hari sabtu-selasa (24-28/10/2015) kemarin, ada satu acara tambahan yang dilaksanakan sebelumnya yaitu Gebyar Pesantren pada malam jumat (22/10/2015) Program pemerintah ini sejatinya bukan inisiatif panitia pelaksana haul. Pihak panitia hanya menyiapkan fasilitas tempat dan sarana penunjang agar niat baik yang dibebankan pada Universitas Terbuka (UT) semarang ini sukses terlaksana di wilayah sarang. “acara ini seluruhnya ditangani oleh Event Organizer (EO) Universitas Terbuka, kami hanya sebagai tuan rumah yang menyediakan tempat” ungkap Gus Baihaqi sebagai ketua panitia pelaksana acara.

Berselang satu hari dari acara gebyar pesantren, barulah rangkaian acara utama Haul dilaksanakan. Dimulai dari tahtiman bin nadzor dan bil ghoib, kemudian tahlil-tahlil, mulai dari tahlil santri MIS sendiri, santri MGS, hingga tahlil dalam acara puncak, pengajian dan tahlil masal di Maqbaroh setumbun.

Dalam puncak acara ini, hadir sebagai pembicara adalah

– Al Habib Abdulloh bin Abdurrahman Al Muhdlor (yaman)

– As Sayid Musthofa bin Umar Al Aydrus (surabaya)

– KH. NurRohmat (pati)

Sementara yang mewakili sambutan dari pihak keluarga adalah KH. Roghib Mabrur, pengasuh PP.MIS. Beliau mengatakan bahwa haul tersebut merupakan even tahunan pondok yang dilaksanakan setiap tanggal 14 Muharrom. “Agenda yang sejak dulu berlangsung pada setiap tanggal 14 Muharram ini adalah ajang untuk mempererat hubungan antara alumni, kyai, dan warga sekitar.”

Dalam kesempatan itu beliau juga menjelaskan bahwa pengajian dan tahlil masal kali ini merupakan peringatan Haul Masyayikh yang berjasa menghidupkan islam di daerah sarang. Khususnya yang disemayamkan di maqbarah setumbun. “di antara masyayikh yang kita hauli adalah KH Muslim bin Taslim (asal madura), Mbah Ghozaly, muassis pertama pon.pes di daerah sarang, KH. Syuaib, KH. Umar bin Harun, KH. Imam Kholil bin Syuaib, KH. Abdullah bin Abdurrachim, KH. Umar Faruq, KH. Faqih Imam, KH. Murtadlo dan seluruh masyayikh sarang pada umumnya, semoga dengan wasilah dan ta’dzim kita ini, ilmu kita akan bermanfaat dan barokah. Man washola ma washola illa bilhurmah, wa man saqotho ma saqotho illa bitarkil hurmah” tutup beliau.

Sementara yang menyampaikan sambutan dari perwakilan alumni adalah KH. Nor Rohmat asal pati. Hanya sekitar 30 menit beliau memberikan tausyiahnya. Yang perlu digaris bawahi dari ngendikan beliau adalah, “sarang kui artine susoh (tempat mengerami telur, red) mugi-mugi ngelahirno jago-jago sing saget jogo utuhe nuswantoro ingkang nembe nangis, geger gonjang ganjing  kemasukan pemikiran-pemikiran liberalisme lan sak pinunggalane “.

Mauidhoh yang kedua disampaikan oleh Al Habib Abdulloh bin Abdurrahman Al Muhdlor dari Yaman, dengan penerjemah As Sayid Musthofa bin Umar Al Aydrus asal surabaya Menurut beliau, acara semacam ini, mengenang jasa para ulama’, mengagungkannya, adalah salah satu bentuk ketaqwaan kita kepada Allah SWT. “Syiar islam yang seperti ini merupakan bentuk ketakwaan seorang hamba kepada Allah subhanahu wata’ala, dan juga ibarat pembaktian seorang anak kepada orangtuanya”

salah satu bentuk bakti kepada orang tua yang beliau contohkan adalah, kita harus berbakti kepada bapak dan ibu, niscaya anak-anak kita juga akan berbakti kepada kita. Berbakti kepada orang lain yang sering dibaiki oleh orang tua kita sebelum wafat juga adalah hal yang wajib kita lakukan.

Sebagi pelengkap, beliau menitipkan satu wasiat kepada seluruh muazziyyin dan muazziyat yang hadir. Yaitu untuk terus mengerjakan amalan yang dapat memberikan  pahala meskipun kita sudah tiada kelak. Caranya adalah dengan sodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat, serta anak sholeh yang mendoakan kedua orangtuanya. Ketiga hal tersebut sesuai hadist Nabi Muhammad SAW. “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak sholeh yang mendoakannya”. (ian)

Leave a comment

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *