Hikmah Berkurban


Sebagai salah satu sunnah nabawiyyah yang dilaksanakan oleh para jamaah haji atau masyarakat muslim lainnya memiliki hikmah yang sangat besar. Hikmah yang paling nyata adalah mengikuti tuntunan Nabi Ibrahim a.s tatkala Allah swt. memerintahkannya dalam mimpi untuk menyembelih putra tercintanya, Nabi Isma’il a.s, lalu beliau segera melaksanakannya namun karena ketaatan beliau kepada Tuhannya, Allah swt. menggantinya dengan seekor kambing dari surga. Dalam peristiwa tersebut ada dua hikmah yang mulia, yaitu:

  1. menampakkan ketaatan dan ketundukan seorang hamba kepada Tuhannya meskipun diperintahkan untuk menyembelih anaknya sendiri.
  2. Mensyukuri nikmat Allah yang berupa tebusan kambing dari surga. Andaikan dahulu Allah swt. tidak menggantinya dengan kambing, niscaya kita pasti diperintahkan untuk menyembelih putra-putra kita. Disamping itu, dalam berkurban juga terdapat unsur kemandirian dan peduli terhadap orang lain yang terejawantahkan dalam penyembelihan dan pendistribusian daging kurban. Nikmat tersebut harus kita syukuri mengingat kita telah ditakdirkan sebagai orang yang mampu melaksanakan kurban lalu dapat bersedekah kepada orang fakir dan kita tidak dijadikan orang yang berhak menerimanya. Ini adalah sebuah nikmat yang besar.

Orang yang melaksanakan kurban, sungguh ia termasuk orang-orang yang luhur, sebab tiada kedudukan yang paling mulia kecuali ketaatan hamba terhadap Tuhannya dalam setiap perintah walaupun harus menyembelih putranya.

KURBAN UMAT TERDAHULU

Tradisi berkurban sebenarnya sudah ada sejak zaman Nabi Adam a.s, yaitu tatkala dua putra beliau yang bernama Qobil dan Habil berkurban untuk membuktikan kurbannya siapa yang diterima oleh Allah swt., sehingga dialah yang berhak menjadi suami Laudza, putri tercantik Nabi Adam a.s. Habil berkurban kepada Allah swt. dengan kambing, unta dan harta ternak lainnya yang dimilikinya. Sedangkan Qobil berkurban kepada Allah swt. dengan hartanya yang jelek dan gandum sisa. Setelah itu datanglah api dari langit yang melalap kurban tersebut, siapa yang kurbannya dilalap api maka kurbannya diterima oleh Allah swt. Salah satu kurban mereka diterima dan yang satunya tidak. Pada masa Nabi Nuh a.s, setelah peristiwa banjir bandang, beliau juga berkurban dengan menyembelih hewan yang banyak. Nabi Ibrahim a.s juga mendekatkan diri kepada Allah dengan bersedekah roti dan menyembelih kambing setiap ada tamu. Tradisi kurban semacam ini terus berlanjut mulai zaman Nabi Ibrahim a.s sampai diutusnya Nabi Musa a.s hingga umat-umat sebelum Nabi Muhammad saw. justru berkurban yang dipersembahkan untuk berhala sesembahan mereka hingga akhirnya datanglah agama Islam yang mengharamkan kurban untuk dipersembahkan pada berhala.

                Kurban menurut ulama’ terdahulu terbagi menjadi tiga bagian, kurban muhriqoh, kurban pelebur dosa dan kurban keselamatan. Kurban muhriqoh adalah kurban yang hanya diambil kulitnya saja lalu diberikan kepada para dukun. Sedangkan kurban pelebur dosa adalah kurban yang sebagian dimakan sendiri dan yang sebagian lainnya dimakan oleh para dukun. Dan kurban salamah (keselamatan) adalah kurban yang dagingnya benar-benar halal bagi mereka.

                Ketika tradisi menyembah berhala-berhala, bintang-bintang telah hilang pada masa umat terdahulu, mereka beralih mempersembahkan buah-buahan, hasil bumi kepada haikal-haikalnya (tempat yang disucikan atau kuil). Para orang Yunani kuno biasanya memasukkan garam ke dalam kurban mereka. Menurut pandangan mereka, hal itu sebagai syarat untuk bersedekah, mereka sengaja memasukkan garam lalu menyuguhkannya kepada orang-orang yang datang. Orang Romawi juga menyuguhkan kurban kepada Tuhan mereka dan orang yang datang “sunnah” untuk mengambil sedikit dagingnya sebagai bentuk tabarrukan bagi dirinya dan juga kepada kerabat-kerabatnya. Orang Persia juga mengorbankan manusia yang dipersembahkan kepada sesembahan mereka, berhala “uzza”. Disebutkan pula bahwa orang-orang Mesir kuno setiap tanggal 11 tiap bulannya mereka mempersembahkan kurban kepada sungai Nil berupa gadis perawan dari kaum mereka dengan didandani secantik mungkin lalu mereka menenggelamkannya ke dalam sungai yang mereka yakini sebagai persembahan mereka. Tradisi bobrok ini terus berjalan sampai zamannya ‘Amr bin ‘Ash yang menghentikannya atas perintah dari Umar bin Khotthob. Kurban manusia yang telah dilakukan orang-orang Mesir kuno seperti tadi jelas tidak ada dasarnya, jelas salah dan sesat.

                Dari kisah-kisah yang telah kita ketahui di atas, hendaknya kita mengambil satu pelajaran berharga dari keadaan-keadaan umat terdahulu yang mengurbankan manusia, bahwa semua itu tidak diperbolehkan. Berkurban yang benar adalah dengan sapi, unta, kambing sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi Muhammad saw dan dilaksanakan serta didistribusikan sesuai dengan prosedurnya. (khuzainy)

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *