IMPLEMENTASI KASIH SAYANG UNTUK JIHAD


implementasi

Bulan november adalah bulan dimana hari pahlawan diterapkan, yaitu tanggal 10 november. Menarik untuk kita selami lebih dalam ada apa, kenapa, dan bagaimana peristiwa dibaliknya. Secara umum khalayak masyarakat mengetahui bahwa pada tanggal 10 November 1946 terjadi pertempuran sengit antara Belanda dengan pribumi di Surabaya. Dan oleh sebab itu Bung Tomo dilabeli sebagai pahlawan nasional. Akan tetapi tidak sedikit pula orang awam tidak paham adanya unsur jihad dalam perjuangan melawan kolonial waktu itu. Ada campur tangan organisasi islam Nahdlotul Ulama (NU) dengan resolusi jihadnya yang diputuskan di kota yang sama. Resolusi itu dibuat tanggal 22 Oktober 1945 ( 18 hari sebelum meletusnya perang besar-besaran).

Sebelum resolusi itu dipublikasikan, terlebih dahulu diawali oleh fatwa hadrotus Syaikh KH. M. Hasyim Asy’ari yang menyatakan antara lain:

  1. Berperang menolak dan melawan penjajah itu hukumnya fardlu ‘ain (yang harus dikerjakan tiap-tiap orang islam, laki-laki, perempuan, anak-anak baik bersenjata maupun tidak). bagi orang orang yang berada dalam jarak lingkaran 94 km. dari tempat masuk dan kedudukan musuh.
  2. Bagi orang-orang yang berada diluar jarak lingkaran tadi hukum kewajibannya menjadi fardlu kifayah (yang cukup dikerjakan oleh sebagian orang saja).

Bermula dari fatwa rois akbar NU KH. M. Hasyim Asy’ari di atas, kemudian resolusi jihad ini di kokohkan dalam muktamar NU XVI di Purwokerto pada tanggal 26 -29 Maret 1946.

Fatwa tersebut memberi pengaruh besar atas kebangkitan anak Surabaya untuk menahan dan melawan gempuran serdadu Belanda sampai titik darah penghabisan. Dengan seruan semangat “Merdeka” yang dikumandangkan oleh Bung Tomo, maka terjadilah perang rakyat pada 10 november 1945 di Surabaya, yang kemudian dikenal sebagai Hari Pahlawan.

Diharapkan bagi kita untuk menumbuhkan rasa nasionalisme dan patriotisme setelah tahu perjuangan pendahulu kita hingga merelakan nyawanya demi bela negara. Bisa dikatakan terkesan memalukan, seumpama para pahlawan hidup kembali lantas menanyai kita soal sejarah bangsa. Namun kita hanya menggelengkan kepala tidak tahu. Kita akan ditertawakan dan dianggap remeh saat kekayaan budaya, kearifan lokal, dan segala yang kita miliki begitu mudah direbut oleh orang lain karena lemahnya rasa memiliki dan cinta bumi pertiwi. Keinginan menjaga menjadi benteng harus kita miliki supaya dengan itu dapat meminimalisir terjajahnya kembali negara tercinta ini.

Dewasa ini  banyak terjadi kasus aksi bom bunuh diri mengatas namakan agama bermotif jihad. Starting point (titik mula) adanya sekte memaknai arti kata jihad secara sempit. Mereka hanya fokus pada makna jihad yang berarti Al Qital (peperangan). Lalu menggunakan paham tersebut sebagai semangat penghancur (Destructive spirit), membumi hanguskan siapa saja yang tidak sepaham dengan mereka. Aksi-aksi teror sering diluncurkan sehingga agama islam dianggap sebagian negara khususnya Amerika, bahwa islam adalah agamanya para teroris. Mirisnya lagi terjadi islamophobia ( phobia terhadap islam ) di Amerika yang merugikan saudara kita yang ada disana sebagai minoritas. Jelas paham fundamentalisme  dan radikalisme ini mencederai agama islam yang rahmatan lil alamin.

DEMO

Belum lama ini publik juga digemparkan oleh aksi 4 November 2016. Ratusan ribu orang malakukan demo di depan istana negara. Berawal dari kasus penistaan agama yang dilakukan oleh Basuki Tjahadja Purnama alias Ahok dan keterlambatan pemerintah menyikapinya secara hukum sehingga menyita perhatian banyak orang, yang kemudian viral untuk diperbincangkan. Ada sebagian yang mengartikan demo itu langkah jihad membela agama. Namun ada juga pihak yang tidak menyetujuinya, dan memberi himbauan untuk tidak ikut serta dalam aksi demo tersebut. Nahdlatul Ulama misalnya, sampai mengeluarkan surat himbauan bagi warganya untuk tidak ikut serta. Suatu hal kewajaran ada perbedaan pemahaman yang dilandaskan alasan mereka masing-masing.

Menurut syara’ (bahasa arab al jihad) adalah berjuang dengan sungguh-sungguh. Jihad dilaksanakan untuk menjalankan misi utama manusia menegakkan ad-Din (agama) Allah atau menjaga ad-Din tetap tegak dengan cara-cara yang sesuai dengan garis perjuangan rasul dan al-Quran. Pada dasarnya makna jihad lebih luas ketimbang perang untuk membela dan mempertahankan agama. Setiap usaha dan jerih payah yang ditanggung orang beriman dalam membela kebenaran. Dalam kitab Ihya, Imam Ghozali menekankan jihad an-nafs (memerangi hawa nafsu). Tapi banyak juga penjelasan Imam Ghozali tentang jihad dalam arti perang melawan kafir seperti dalam kitab al-Wajiz fi Fiqhi Madzhabil Imam as Syafi’i. Sedangkan pandangan Imam Ibnu Taimiyah mengenai jihad ialah, segala kemampuan dan seluruh jiwa raga untuk selalu berada dijalan kebenaran baik melawan kejahatan maupun lainnya dengan niat dan tujuan yang hanya pada keridloan Allah SWT.

Kemudian mari kita pelajarai pendapat ulama klasik seperti al Ghozali dan Ibnu Taimiyah mengenai jihad, dengan ulama kontemporer misalnya Sayyid Quthb dan Muhammad Rasyid Ridho yang akan dituangkan sebentar lagi. Dimanakah letak perbedaan dan titik temu antara penjelasan mereka itu. Berikut ini arti kata jihad yang dimaknai oleh ulama kontemporer.
Menurut  Sayyid Quthb, perang dalam islam bukanlah defensive melainkan offensive. Sasaran penyerangan bukan memaksa lawan untuk meniggalkan prinsipnya melainkan untuk membasmi pemerintahan yang menyuburkanya. (Muhammad Syafi’i, konsep jihad studi komperatif pemikiran Muhammad Rasyid Ridha dan Sayyid Quthb). Menurut Muhammad Rasyid Ridho menafsirkan jihad yakni, jihad tidak semata-mata melakukan peperangan, melainkan jihad bermakna harfiah, yaitu jerih payah seseorang bisa ditransfer perjuangan dakwah, pendidikan,  pengentasan kemiskinan dan perbaikan pemerintahan.

Secara lahiriyah memang ada perbedaan pendapat antara ulama klasik dan ulama kontemporer mengenai devinisi dari jihad. Namun bisa juga kita tarik kesimpulan bahwa esensinya sama, yaitu memeras jerih payah dan upaya untuk berjuang meraih ridloNya. Jadi kita tidak bisa serta merta mengartikan arti jihad hanya tertuju pada peperangan. Lagi pula pada zaman belakangan ini kita tahu negara-negara sudah menetapkan garis pelindung dengan aturan hukum. Maka peperangan sangat dikecam karena sangat bertentangan dengan peri kemanusiaan. Yang jadi masalah dan sering diperdebatkan yaitu, apakah ada atau bisa arti kata jihad dispesifikasikan? Dalam pengaktualisasiannya kita dituntut dengan kecakapan kita agar pemaknaan jihad tidak disalah artikan. Jadi sangatlah perlu dan urgent untuk memperdalam pemahaman agama kita untuk mengantisipasi pengaruh paham fundalisme dan radikalisme.

Dalam kitab Al – Bajuri dijelaskan jihad itu ada dua macam ada istilahnya jihad asghor (kecil) & istilah jihad akbar (besar) Di kitab itu diterangkan bahwa justru peperangan termasuk sebagian jihad asghar. Adapun jihad akbar adalah mujahadatun nafsi (memerangi hawa nafsu). Hal ini senada dengan pendapat Imam Ghozali yang di atas dalam kitab Ihya’. Penyempitan ma’na jihad menjadi al-qital berbuntut pada syarat dan ketentuan yang ketat. Ada beberapa kriteria yang harus terpenuhi sebelumnya. Karena agama Islam sendiri menjaga kita untuk tidak berlaku brutal dan semena-mena. Islam bukanlah ajaran yang menuntut kita bertindak keras, namun agama yang tegas. Bukan pula ajaran yang mengharuskan kita supaya bersifat lunak tapi ajaran yang menuntun kita bersikap lemah lembut. Artinya Islam adalah agama yang fleksibel nan elastis tanpa keluar dari batasan syara’.

Aktualisasi jihad belakangan ini sangat diperlukan pada zaman modern seperti saat perkembangan teknologi semakin pesat, jikalau kita hanya berdiam diri, maka kita akan semakin jauh tertinggal lalu menjadi pribadi yang primitif. Pendalaman ilmu menjadi kebutuhan pokok. Ibarat benteng yang didirikan dengan sedemikian kokoh, maka sulit pula untuk ditembus.

index

Pengetahuan menjadi benteng penangkal masuknya paham-paham yang melenceng. Kita bisa mengambil peran penting demi kemajuan umat & berbangsa lewat jalan jihad yang disalurkan lantaran amar ma’ruf nahi mungkar. Sifat simpati, perhatian & kepedulian antar sesama bisa kita tumbuhkan dengan rasa kasih sayang. Memposisikan diri pada posisi orang lain untuk memudahkan menyikapi & mengajak berjalan bersama menuju individu yang lebih baik dari sebelumnya. Karena amar ma’ruf nahi munkar adalah manivestasi dari rasa kasih sayang. Dahulu di desa-desa jika anak kecil memanjat pohon terlalu tinggi, maka orang yang lebih tua darinya entah itu tetangga atau orang lain akan menegurnya supaya turun. Berbeda dengan orang tuanya sendiri yang melihatnya, maka dia tidak hanya menegurnya saja, lebih dari itu orang tua akan langsung memanjat pohon dan langsung menarik tangan anaknya agar turun dari pohon. Ini dikarenakan mereka takut anak kecil tersebut jatuh. Contoh seperti ini menunjukkan semakin besar rasa kasih sayang, semakin besar pula kepedulian kita antar sesama.

Sesuai dengan pendapat Muhammad Rasyid Ridha, kita bisa berjihad melalui jalan dakwah, pendidikan, pengentasan kemiskinan dan perbaikan pemerintahan. Maka bila kita menghendaki kebaikan-kebaikan tersebut pada orang lain, kita perlu mengajaknya dengan cara yang benar serta nyaman baginya. Seperti apa yang telah kita ketahui bersama bahwa Nabi Muhammad SAW. adalah makhluk yang paling lemah lembut dan penyayang. Pada zamannya pula beliau berdakwah mengajak umat menuju kebaikan dengan konsep amar ma’ruf nahi munkar. Jadi implementasi kasih sayang untuk berjihad itu sangat erat kaitannya. Yang namanya orang tua itu menghendaki kebaikan ada pada anaknya dan tidak menginginkan anaknya terjerumus pada keburukan. Seperti guru dengan muridnya, sahabat dengan sahabatnya dan teman dengan temannya. Namun rasa kasih sayang mereka berbeda-beda kadarnya.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *