Kuljum Kedua DEWAN MURID MGS, Kapabilitas Fiqih Kontemporer Dalam menjawab Problematika Umat


SARANG (20/11/2015), Saat ini, wacana yang santer terdengar mengenai lembaga pesantren adalah ketidakmampuan kutubutturots dalam  menjawab  masalah baru yang berkembang di masyarakat modern. Menyikapi hal ini, DEWAN MURID Madrasah Ghozaliyyah Syafi’iyyah mengadakan acara Kuliah Jum’at Kedua pada hari Jumat (20/11/15) dengan mengusung tema “Kapabelitas Fiqih Kontemporer Dalam menjawab Problematika Umat” sebagai salah satu bentuk klarifikasi wacana miring di atas dengan Narasumber KH. M. Aniq Muhammadun, Rois Syuriah PCNU Pati 2013-2018 serta pengasuh PP. Mamba’ul Ulum Pakis Tayu Pati yang masyhur dengan keteguhannya memegang kutubussalaf.

Melihat realita yang ada, perkembangan zaman dan kemajuan tekhnologi telah memunculkan banyak permasalahan baru di kalangan masyarakat dengan berbagai macam latar belakangnya, mulai dari problem rumah tangga, transaksi, kesehatan dan lain sebagainya. Sehingga keadaan demikian menuntut para intelektual agama untuk memberikan penjelasan dan jawaban atas problematika tersebut. Sebagai wadah kajian masaail diniyyah baik aktual maupun tematik, Bahtsu Masa’il tampil dengan sistem kajiannya yang mendetail dalam pembahasan suatu masalah mengalahkan sebuah seminar yang dilakukan oleh kalangan akademis. Hal itu dikarenakan adanya sebuah aturan dalam bahtsu masa’il, setiap keputusan harus disertai dengan dasar nash dari kutubutturots atau kutubi ulama’is salaf. Anggapan mengenai ketidakrelevan-nya kitab tersebut dengan masalah yang ada, ternyata masih belum mampun menggoyahkan eksistensi kutubutturots sebagai acuan dalam penetapan hukum.

Beliau yang akrab dipanggil dengan yai Aniq menyampaikan bahwa kutubussalaf tetaplah harus diutamakan daripada kutubul mu’ashiroh (kitab kontemporer). “Utamakan kutubussalaf, karena ulama’ salaf lebih bersih dalam berfikir, tidak terkontaminasi oleh politik dan hal-hal lain yang bersifat materi, tujuannya hanyalah nasyrul ilmi”. Namun, beliau juga tidak serta merta menolak mengambil rujukan dari kitab kontemporer. Namun sebelum merujuknya, ada beberapa catatan yang harus dipenuhi. “Kitab tersebut dapat kita jadikan rujukan dengan catatan, (1) mualifnya benar-benar alim (2) Ahlul war’i (3) Adil (4)  tidak ada ibarat kutubussalaf yang sesuai dengan masalah yang kita bahas atau kita jadikan pendukung ibarat kitab salaf yang telah ada” kata beliau sebagai penutup presentasinya. Sebelum beliau menutup acara dengan doa, sedikit motivasi sempat beliau sampaikan. Kebanggaan menjadi santri harus senantiasa ada dalam dada, apalagi santri sarang, yang merupakan salah satu dari sedikit pondok pesantren salaf yang masih bertahan, “kalian harus bangga menjadi santri sarang yang masih terjaga kesalafannya, karena dengan adanya kalian, kutubussalaf akan terus ada dan lestari”.(ian)

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *