Malam taaruf ppmus tahun ajaran 1436-1437


Lailatul Ijtima'

Sarang, Malam Taarufan Pondok pesantren Ma’hadul ‘Ulum As-Syar’iyyah malam jum’at kemarin (27/08/2015) dibuka dengan lantunan kidung-kidung sholawat oleh grup hadroh Durrotusshofa. Acara yang khusus diadakan setiap permulaan tahun ini dimaksudkan agar santri baru mengenal lebih jauh pondok yang akan mereka mukimi untuk beberapa waktu ke depan.

Suara emas M.Arifin berhasil membungkam para santri saat sesi pembacaan ayat-ayat suci al-Qur’an. Sesi sambutan diawali dengan salam perkenalan dari santri baru. Diwakili oleh Ahmad Baihaqi,kamar 50, dia berharap mandapat bimbingan dari santri-santri yang lebih senior darinya.

Sambutan kedua oleh perwakilan santri lama. Diwakili oleh Ahmad Faishol Rifki, kamar 37,  dia berpesan kepada santri baru khususnya, agar senantiasa madep (fokus), mantep (berkeyakinan penuh), jejeg (istiqomah) dalam bertholabul ilmi di ponpes ini. “Tiga hal yang harus kita pegang teguh kalau mau berhasil di pindok ini adalah, Madep, Mantep, lan Jejeg.” Katanya.

Pak Salim sebagai ketua pondok mendapat kesempatan ketiga untuk menyambut para santri. Dalam sambutannya beliau mengingatkan para santri agar selalu taat pada Qowanin Asasiyah, peraturan pondok yang sudah dibuat dan diresmikan oleh para founding father Ponpes MUS dulu (1357 H). beliau mengingatkan juga agar kelancaran kegiatan pondok bisa tetap terjamin, diharapkan agar santri yang belum mendaftar, segera mendaftar dan melunasi segala biaya administrasinya. “Mengaji dan sekolah juga harus semangat, nggak usah nunggu diobra’i.” imbuhnya. Pak Ubaid dan Pak Iqna’ mendapat  kesempatan selanjutnya untuk membacakan tata tertib Ma’aarif dan Keamanan PP.MUS.

Sesi terakhir diisi Mauidhoh hasanah oleh Mbah Kiai Said Abdurrochim, Pengasuh PP.MUS Sarang. Beliau memberikan banyak motivasi dan pesan-pesan penyamangat untuk para santri baru. Pun untuk santri lama yang sudah terlalu lama berada di rumah agar semangat mereka kembali seperti semula. Beliau mengatakan bahwa seharusnya, sebagai seorang santri, kita boleh bangga atas taufiq Allah yang menuntun kita ke jalan tholabul ilmi. Perasaan bangga ini harus juga dibarengi dengan semangat menjalaninya. Beliau berkata demikian karena prihatin, dewasa ini hampir tidak bias ditemukan seseorang yang bertholabul ilmi hingga derajat mufti, sehingga seakan-akan dunia mengalami krisis pengajar ilmu agama (yang benar-benar mendalami agamanya, bukan guru agama yang mendapat sertifikasi Departemen Agama).

Ngerem-ngeremnya Mbah Yai untuk para santri tidak sampai disini. Beliau mungkin tahu kekhawatiran para santri (terutama yang sudah berumur) akan kesuraman masa depannya nanti. Beliau katakana kepada para santri  bahwa bekal amal sholih bisa menjadi jaminan untuk sukses dunia akhirat. “Separuh rizki itu keuletan, pengaturan, dan kejujuran (Akhlak karimah).” Imbuh beliau. Beliau berkata juga, “Sudah terlalu banyak sarjana yang melamar kerja di perusahaan, akan tetapi lebih banyak dari mereka yang tak diterima bekerja disana. Mungkin perusahaan sudah bosan mencari sarjana. Kini yang mereka cari adalah orang jujur. Nah, ini salah satu celah yang mungkin bisa dimasuki oleh orang-orang yang berlatar pendidikan pesantren.”