Malu Sebagai Fitrah Manusia


Malu sebagai fitrah manusia
Semua manusia terlahir memiliki fitrah, yang dapat diartikan sebagai asal penciptaan. Manusia dapat dikatakan telah keluar dari fitrahnya ketika ia telah keluar pula dari asal penciptaannya. Keluar dari fitrah adalah merupakan sebuah kekeliruan. Manusia keliru jika ia sudah tak lagi menyukai keindahan dan kebaikan. Lebih keliru lagi jika ia malah menyukai keburukan dan kejahatan. Karena baik menyukai kebaikan maupun membenci kejahatan adalah fitrah manusia.

Termasuk fitrah manusia adalah memiliki rasa malu. Rasa malu yang hilang dari hati menyebabkan seorang dikatakan lepas dari fitrahnya sebagai manusia. Terkadang oleh masyarakat ia akan diserupakan dengan hewan atau benda mati, karena keduanya tidak memiliki rasa malu. Rasa malu adalah simbol manusiawi dan benteng yang berfungsi melindungi manusia dari perbuatan-perbuatan non-manusiawi (hewani), sebab itu ia (rasa malu) dikatakan cabang dari keimanan.

Islam sebagai agama yang kompleks, tak luput dari memperhatikan rasa malu dalam diri manusia. Karena Islam adalah agama yang berusaha menjaga umatnya teguh dalam fitrahnya sebagai manusia. Namun, bukan berarti Islam mengajak kita untuk menjadi orang yang pemalu, yang dengan sifat pemalu itu justru akan menjadi sebuah kekurangan yang harus dibenahi.

Islam memberi term, malu tidak berlaku pada hal-hal yang baik. Seperti malu bertanya pada guru atau malu belajar pada orang yang lebih muda. Allah berfirman dalam surat al-ahzab:

وَاللَّهُ لَا يَسْتَحْيِي مِنَ الْحَقِّ

“Dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar.” (QS. Al-Ahzab; 53)

Tidak sepantasnya bagi seorang penuntut ilmu malu akan hal yang demikian, karena yang demikian itu bukan bagian dari malu yang syar’i, yang dikatakan cabang dari keimanan. Rasulullah pernah bersabda;

الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً، وَالحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإِيمَانِ

“Iman itu terdiri dari beberapa bagian serta memiliki enam puluh cabang, dan rasa malu merupakan cabang dari keimanan.”

Sayyidah Aisyah ra pernah berkata; “wanita sejati adalah wanita anshor, rasa malu tak menghalangi mereka dari belajar memahami agama.”

Orang yang malu bertanya tidak akan pernah mendapatkan ilmu, kecuali jika ia berusaha mengalahkan rasa malunya atau meminta orang lain menanyakan apa yang sedang ia bingungkan. Teringat kisah Sayyidina Ali ra, saat beliau malu menanyakan tentang madziy pada Rasulullah selaku mertua beliau, akhirnya beliau sayyidina Ali meminta sahabat Miqdad dan Ammar untuk menanyakan itu.

Demikian pula sebagaimana seorang itu harus tak malu bertanya kepada guru, ia juga harus tak malu berkata “saya kurang paham” jika memang itu faktanya. Atau menjawab “saya tidak tahu” jika diminta memberikan fatwa sedang dia ragu akan kebenaran jawabannya.

Ada pembagian sederhana tentang rasa malu dipandang dari situasi dan kondisinya. Malu ada yang tidak pada tempatnya dan malu yang pada tempatnya. Malu yang tidak pada tempatnya biasa disebut dengan kekurangan. Malu yang pada tempatnya adalah malu yang syar’i, malu yang terpuji, yang menggiring seorang kepada tindak meninggalkan keburukan (salah satu tujuan syara’).

Malu yang syar’i ini, memiliki dua makna khusus. Yakni rasa malu yang merupakan fitrah (alamiah), yang juga merupakan cakupan dari hadits syu’bah minal iman. Berikutnya adalah malu yang muktasab (tidak alamiah), malu yang diperoleh dengan usaha mengenal Allah, memahami keagungan-Nya serta meneladani semua sifat-sifat-Nya. Buah dari rasa malu ini adalah derajat keimanan dan keihsanan.

Diriwatkan bahwa implementasi malu kepada Allah adalah dengan menjaga mata, telinga, mulut dan pikiran dari hal-hal yang tak baik. Menjaga perut dari makanan yang syubhat, mengingat mati dan meninggalkan bermewah-mewahan dalam urusan duniawi.

Ada hal unik dalam Islam tentang perbandingan rasa malu pria dan wanita, dalam sebuah keterangan bahwa pria memiliki sembilan akal dan satu nafsu, sedangkan wanita memiliki satu akal dan sembilan nafsu, namun kesembilan nafsu wanita ini dapat terbentengi dengan rasa malu yang besar.

Banyak kita jumpai berbagai tindakan manusia tak etis yang terjadi akibat hilangnya rasa malu dalam diri. Bahkan semua itu kerap terjadi di hadapan khalayak ramai. Hal ini sangat dikhawatirkan terlebih jika itu terjadi pada diri wanita. Satu-satunya modal utama bagi mereka kaum hawa adalah rasa malu mereka. Maka jika modal itu hilang, pintu kerugian terbuka lebar untuk mereka.

Rasa malu, tentu bukan hanya kepada manusia. Namun rasa malu bermula kepada diri sendiri, malu kepada orang lain dan malu kepada Allah SWT. Bila kita malu kepada manusia, maka sudah seharusnya kita menanamkan kesadaran malu kepada Allah yang maha melihat dan maha tahu bahkan pada suara hati kita. Rasulullah saw bersabda;

إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَافْعَلْ مَا شِئْتَ

“Jika kamu tidak malu, maka lakukanlah apapun (kejelekan/keburukan) sesukamu”

Hadits ini adalah perintah sindiran Rasulullah untuk melakukan keburukan jika memang tak malu. Tentu yang dimaksudkan adalah malu yang bukan hanya kepada manusia, tapi juga malu kepada Allah yang tak henti-hentinya memberikan banyak nikmat, yang seharusnya dita’ati, bukan malah didurhakai.

Oleh karenanya dalam rangka mengembalikan fitrah malu itu, menjadi kewajiban setiap manusia untuk senantiasa menjaga rasa malu alamiahnya, juga terus mengejar rasa malu berikutnya (non-alamiah) guna meraih derajat keimanan yang luhur dan kesadaran ihsan. Hingga setiap saat, manusia selalu merasa Allah hadir dan mengawasi setiap detik dan setiap hembusan nafasnya. (qodimrachman)

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *