Muhafadhoh Fiqh Seharusnya Ada


Muhafadhoh Masal

Sarang, Dalam kesempatan sidang triwulan PP. MUS kamis kemarin (14/5/2015) KH. Sa’id Abdurrochim mengatakan bahwa menghafal materi fiqh itu diperlukan. Beliau mengemukakan hal ini setelah ada interupsi dari salah satu peserta sidang yang menyayangkan kegiatan rutinan muhafadhoh masal alfiyah yang dihapus, sebelum yai sa’id berkomentar, Ust. A. Syafiq selaku ketua ma’arif menjelaskan bahwa muhafadhoh massal alfiyah tiap malam jumat ditiadakan karena adanya kegiatan baru yaitu khitobiyyah antar komplek, yang biasanya berlangsung dari pukul 21.30 sampai 23.00 WIB, setelah itu kegiatan ma taqul sampai pukul 24.00 WIB, sehingga tidak memungkinkan mengadakan muhafadhoh massal mengingat waktu yang sudah larut.

KH. Sa’id mengkritik program hafalan yang jamak diadakan di berbagai pondok pesantren, selama ini hafalan yang diwajibkan adalah alfiyah, imrithy dan mulhatul i’rob yang notabene termasuk kategori ilmu alat, sedangkan materi fiqh yang merupakan ilmu pokok belum ada kewajiban untuk menghafal “Mestinya hafal zubad (nadhom fiqh) dulu baru alfiyah (nadhom nahmu)” komentar beliau. Menghafal materi fiqh ini diperlukan karena di dalam masyarakat yang dibutuhkan adalah ilmu pokok/fiqh bukan ilmu alat. “Hafal alfiyah tertapi tidak hafal zubad itu terbalik” lanjut beliau. (ys)