Musyawarah Kubro sebagai pembuka rangkaian acara Haul


IMG_0381

Rangkaian acara peringatan Haul dan Rojabiyyah ke-50 PP MUS dimulai  kemarin, Rabu 20 April 2016. Musyawarah Kubro  Setengah Abad (MKSA) hadir sebagai acara pertama yang dilaksanakan. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, kali ini Musyawaroh  ditempatkan di Auditorium pondok, sebuah gedung baru yang memang diagendakan selesai untuk menyambut hajatan tahunan ini.

 

“semoga acara dapat berjalan dengan lancar, dan cepat selesai!” ucap Ust. Fuadi kepada redaksi disela-sela acara, nampak raut muka sayu wakil ketua MKSA ini, akibat tidur yang tak tercukupi.

 

Acara dimulai dengan pembacaan tata tertib musyawaroh oleh Ust. Ircham Musthofa. kemudian dilanjutkan dengan sambutan ketua Musyawaroh Kubro ke-50 PP MUS , yang kali ini disampaikan oleh Ust. Fatkhul Khoir. Terakhir, pembukaan pembahasan masalah waqiiyyah Musyawarah Kubro disampaikan langsung oleh beliau KH. M. Said Abdurrochim.

 

Dalam pembukaan tersebut, beliau menyampaikan berbagai wawasan baru tentang perjalanan historis Musyawarah Kubro di PP MUS ini. Mulai dari saat pertama kali musyawarah waqiiyah seperti ini dilaksanakan, yang berawal dari hanya diadakan antar komplek, kemudian antar pondok sarang, dan akhirnya lintas propinsi seperti yang tersaji saat ini.

Kemudian beliau melanjutkan dengan memori tentang jatuh dan bangkitnya musyawarah kitab yang sempat mengalami keterpurukan. Sampai akhirnya mampu bangkit dan secara istiqomah dilaksanakan setiap hari sampai saat ini. Musyawaroh tersebut adalah yang sudah lama kita kenal dengan sebutan “Fadhlul Jamil”, Sebuah musyawarah rutin yang dilakukan setiap hari dengan mengkaji kitab Fathul Qarib, Fathul Mu’in dan Fathul Wahhab. Namun seiring berjalannya waktu, Fathul wahhab diganti dengan Syarah Minhajuttolibin.

 

Dan di akhir sambutan beliau, terdengar tiga ketukan palu sebagai penanda dimulainya acara pembahasan masalah-masalah waqiiyyah dalam Musyawarah Kubro ke-50 dalam rangka memperingati acara Haul dan Rojabiyyah ke-50 KH. Achmad Bin Syu’aib.

Leave a comment

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *