NASIONALISME DALAM ISLAM


Konvergensi-Islam-Nasionalisme

 

MUKADDIMAH

Sejak berakhirnya Perang Dunia I, bangsa-bangsa Eropa secara praktis telah menjajah sebagian besar dunia muslim: Inggris menguasai Mesir, Palestina, Trans-Jordan, Irak, Teluk Arab, Anak benua India, dan Asia Tenggara; Prancis menguasai Afrika Barat dan Utara, Libanon dan Syiria; dan Belanda menjajah Indonesia.[1]

Dominasi asing ini telah membangunkan kesadaran umat Islam, dan banyak di antara mereka yang merasakan perlunya respon dari umat Islam untuk menghentikan stagnasi dan meneruskan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk melakukan modernisasi seperti yang telah dilakukan oleh negara-negara Eropa.

Kondisi seperti ini memunculkan sosok pemikir seperti Jamaluddin al-Afghani (1838-1897) yang merupakan penganjur sikap anti-kolonial dan mengajak persatuan Islam trans-nasional (Pan-Islam).[2] Afghani memandang universalitas (Syumûliyah) agama Islam dapat dijadikan modal kekuatan untuk mengusir penjajahan yang melanda dunia Islam.

Prestasi yang menonjol dari gerakan pemikiran seperti yang dilakukan oleh Afghani, telah merangsang bangsa-bangsa Muslim untuk memberontak terhadap dominasi Eropa. Setelah perang Dunia I, dengan runtuhnya Kerajaan Uŝmani dan munculnya negara-negara-bangsa (Nation-States) muslim modern, perlawanan terhadap kolonialisme Eropa mengambil bentuk nasionalisme, menggantikan gerakan solidaritas Pan-Islam. Gerakan nasionalistik ini mulai menekankan faktor-faktor nasional, sejarah dan bahasa. Bukan persatuan atas nama agama.[3]

Nasionalisme seperti ini tentu berbeda jauh dengan konsep Pan-Islam yang dipromosikan oleh Jamaluddin al-Afghani. Persatuan Islam yang digagas oleh Afghani adalah adanya solidaritas dunia Islam dalam menghadapi dan sekaligus menggalang kekuatan untuk mengusir kolonialisme Barat yang melanda dunia Islam. Nasionalisme yang mendasarkan unsur-unsur formatif di luar agama dengan demikian merupakan konsep yang baru dalam dunia Islam. Sehingga ada yang berpendapat bahwa nasionalisme adalah produk yang diimpor dan sengaja diekspor oleh para penguasa kolonial untuk mengacaukan persatuan di dunia Islam.[4] Pandangan ini memperlawankan antara Nasionalisme dan agama.

An-Nabhani, bahkan mengkritik konsep nasionalisme tidak akan dapat mempersatukan umat, karena pengikatnya yang lemah dan hanya bersifat temporer. Nasionalisme menurutnya lebih mengandalkan sentimen atau emosi yang semu, dimana suatu saat bisa hilang.[5]

Sementara itu, dalam konteks kekinian, dimana di negeri-negeri yang mayoritas penduduknya beragama Islam sering kali terjadi pertumpahan darah. Di Afganistan, Somalia, Irak, Yaman dan Suriah; konflik di negeri-negeri muslim ini tampak seperti sudah di ambang batas kemanusiaan. Perang saudara, saling membunuh sesama muslim. Kejadian di Timur Tengah tersebut menunjukkan, ternyata kesamaan dalam agama belum atau tak mampu menyatukan masyarakatnya. Bahkan masing-masing kelompok yang bertikai menyeru kepada masyarakat muslim dunia untuk membantu mereka, juga dengan mengatasnamakan solidaritas Islam. Kita sudah sering mendengar WNI eksodus ke Suriah untuk bergabung dengan Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS). Yang mana, gerakan-gerakan radikal yang bersifat trans-nasional seperti ini, selalu mengatasnamakan syumûliyah dan ukhuwwah islâmiyah.

Lalu bagaimana seharusnya kita memahami konsep Ukhuwah Islâmiyah dan universalitas (syumûliyah) Islam? Bagaimana pula nasionalisme dalam Islam, sehingga tidak berbenturan dangan universalitas Islam?

NASIONALISME DAN ISLAM

Jika dilihat dari asal katanya, nasionalisme berasal dari kata naita atau naitas yang berarti tempat kelahiran. Berbicara mengenai kebangsaan berati berbicara tentang tanah kelahiran.

Sementara di dalam bahasa Arab, nasionalisme biasa dibahasakan dengan Al-wathaniyyah, dari asal kata Wathan (wau-tha’-nun). Secara etimologi, wathan, menurut al-Zabidi memiliki arti tempat tinggal (manzil al-iqâmah) dan bentuk pluralnya adalah Authân.[6] Arti secara bahasa ini tidak jauh beda dengan makna terminologisnya, Imam al-Jurjani mendefinisikan wathan sebagai tempat kelahiran seseorang (maulid-al-rajul) dan tempat tinggal (al-balad al-ladzȋ huwa fȋh).[7]

Nuansanya agak berbeda jika melihat dari definisi sosio-politik dan dalam konteks negara-bangsa, Ahmad Zaki Badawi mendefinisikan wathan sebagai sebuah negara yang dihuni oleh sebuah bangsa, dimana masing-masing individu dari bangsa itu merasa terikat dengannya, dan negara menjadi cita-cita akhir mereka.[8] Dari paparan Zaki Badawi ini tergambar pemikiran nasionalisme sebagai basis filosofis terbentuknya negara-bangsa. Mirip dengan Hans Kohn, yang mengatakan, bahwa yang disebut bangsa adalah himpunan komunitas yang memiliki persamaan bahasa, ras, agama dan peradaban. Menurut ahli etnografi dari Jerman ini, suatu bangsa tumbuh dan berkembang karena adanya unsur-unsur dan akar sejarah yang membentuknya. Dan, untuk mengukuhkan itu semua dibutuhkan pikiran bahwa pengabdian paling tinggi adalah untuk bangsa dan negara yang disebut nasionalisme.

Sementara menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, nasionalisme diartikan sebagai sebuah paham untuk mencintai bangsa dan negara sendiri; kesadaran keanggotaan dalam suatu bangsa yang secara potensial atau aktual bersama-sama mencapai, mempertahankan, dan mengabadikan identitas, integritas, kemakmuran, dan kekuatan bangsa itu. Definisi seperti ini tidak jauh berbeda dengan definisi yang pernah disampaikan oleh para ilmuwan baik lokal maupun internasional. Substansinya sama.

Dari definisi nasionalisme seperti di atas, selanjutnya para ilmuwan muslim memberikan ruh Islam di dalamnya sehingga nasionalisme itu benar-benar dapat selaras dengan Islam. Sebagaimana Dr. Zaid Abdul Karim dalam bukunya Hubbul Wathan, menulis: “Nasionalisme adalah tanggung jawab individu terhadap negaranya yang bersesuaian dengan ajaran Islam”.[9] Definisi ini meniscayakan nasionalisme tidak boleh melampaui ikatan agama. Dan nasionalisme harus dalam koridor dan bingkai agama.

Di dalam Alquran sendiri tidak ditemukan secara spesifik kata al-wathan atau al-wathaniyyah. Tetapi terdapat kata al-dâr atau al-diyâr yang memiliki arti negara, yang diulang hingga 20 kali, yang tersebar di beberapa surat. Uniknya, 19 ayat dari 20 ayat yang menyebut kata ini, kesemuanya berbentuk idhâfah, disandarkan pada penduduk negeri, diyârikum atau diyârihim. Salah satunya seperti pada ayat di bawah ini:

وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَكُمْ لاَ تَسْفِكُونَ دِمَاءَكُمْ وَلاَ تُخْرِجُونَ أَنفُسَكُم مِّن دِيَارِكُمْ ثُمَّ أَقْرَرْتُمْ وَأَنتُمْ تَشْهَدُونَ (84) ثُمَّ أَنتُمْ هَؤُلاء تَقْتُلُونَ أَنفُسَكُمْ وَتُخْرِجُونَ فَرِيقاً مِّنكُم مِّن دِيَارِهِمْ تَظَاهَرُونَ عَلَيْهِم بِالإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ… [البقرة: 84 – 85]

    “Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu (yaitu): kamu tidak akan menumpahkan darahmu (membunuh orang), dan kamu tidak akan mengusir dirimu (saudaramu sebangsa) dari kampung halamanmu, kemudian kamu berikrar (akan memenuhinya) sedang kamu mempersaksikannya. Kemudian kamu (Bani Israil) membunuh dirimu (saudaramu sebangsa) dan mengusir segolongan daripada kamu dari kampung halamannya, kamu bantu membantu terhadap mereka dengan membuat dosa dan permusuhan;…” (QS. al Baqarah: 84-85)

Penyandaran dalam bentuk idhâfah ini menyiratkan kepemilikan dan rasa memiliki secara kolektif dari semua unsur yang ada dalam negara, kesadaran bahwa setiap individu adalah bagian bagian dari negara, serta pentingnya loyalitas terhadap negara.[10]

Di dalam surah an Nisa’ ayat 66, Allah bahkan menyejajarkan cinta tanah air dengan kecintaan pada diri atau pribadi;

وَلَوْ أَنَّا كَتَبْنَا عَلَيْهِمْ أَنِ اقْتُلُواْ أَنفُسَكُمْ أَوِ اخْرُجُواْ مِن دِيَارِكُم مَّا فَعَلُوهُ إِلاَّ قَلِيلٌ مِّنْهُمْ وَلَوْ أَنَّهُمْ فَعَلُواْ مَا يُوعَظُونَ بِهِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُمْ وَأَشَدَّ تَثْبِيتًا [النساء: 66]

    “Dan Sesungguhnya kalau Kami perintahkan kepada mereka: “Bunuhlah dirimu atau keluarlah kamu dari kampungmu”, niscaya mereka tidak akan melakukannya kecuali sebagian kecil dari mereka. Dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka).” (QS. an Nisa’: 66)

Jika kecintaan terhadap diri sendiri merupakan fitrah manusia maka sama halnya dengan kecintaan terhadap tanah kelahiran atau negara dimana dia tinggal. Nabi Muhammad sendiri saat harus hijrah ke Madinah, mengungkapkan sebuah kalimat yang menyiratkan kecintaan beliau yang begitu dalam terhadap tanah kelahiran Beliau, Makkah;

مَا أَطْيَبَكِ مِنْ بَلَدٍ وَأَحَبَّكِ إِلَيَّ وَلَوْلاَ أَنَّ قَوْمِي أَخْرَجُونِي مِنْكِ مَا سَكَنْتُ غَيْرَكِ

    “Sungguh engkau, Makkah, adalah negeri paling indah dan paling aku cintai. Kalau bukan karena kaumku mengusirku darimu niscaya aku tidak akan tinggal di tempat lain selainmu”. (HR. Tirmidzi dan al-Hakim)

Dan setelah tinggal di Madinah, Nabi juga mencintai Madinah. Beliau bahkan berdoa: “Ya Allah, berikan kepadaku rasa cinta terhadap Madinah, sebagaimana kecintaanku terhadap Makkah, atau bahkan melebihinya” (HR. Bukhari dan Muslim).

Akan tetapi, di atas itu semua, Allah menjadikan agama di atas segalanya. Kecintaan terhadap keluarga, harta dan negara harus tunduk jika dihadapkan dengan kecintaan terhadap Allah dan Rasul-Nya. Penegasan ini ada pada surat at Taubah ayat 24:

قُلْ إِن كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَآؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُم مِّنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُواْ حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ [التوبة: 24]

    “Katakanlah: “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNya dan dari berjihad di jalanNya, Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusanNya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik”. (QS. at Taubah: 24)

Dari beberapa ayat dan hadis di atas bisa ditarik kesimpulan bahwa kecintaan dan loyalitas terhadap agama haruslah berada di atas kecintaan dan loyalitas terhadap negara. Tetapi pada tataran praktis, nasionalisme dan kecintaan terhadap negara tidak hanya selaras dengan cita-cita agama, bahkan menjadi wujud serta implementasi dari loyalitas dan kecintaan terhadap agama.

Bagaimana tidak, saat negara-bangsa yang berpenduduk mayoritas muslim dilihat sebagai negara (objek) dakwah yang harus dijaga dan dipertahankan oleh penduduknya, maka saat kita kehilangan negara sama halnya kita telah kehilangan medan dakwah. Inilah yang dimaksud oleh al-Buthi bahwa saat kita mempertahankan sebuah negara maka sejatinya kita sedang mempertahankan eksistensi dakwah Islam. Mempertahankan sebuah tempat dimana syiar Islam dapat dijalankan. Dengan demikian nasionalisme tidak selayaknya diposisikan secara diametral dengan agama. Nabi Muhammad bahkan memberikan pengesahan terhadap konsep ini;

من قتل دون ماله فهو شهيد ومن قتل دون دمه فهو شهيد ومن قتل دون دينه فهو شهيد ومن قتل دون أهله فهو شهيد

    “Siapapun yang mati karena membela harta, membela nyawa, membela agama, membela keluarganya, maka dia telah mati dalam keadaan syahid.”

PENUTUP

Jadi, dengan membaca secara cermat realitas sejarah, dapat disimpulkan bahwa pada term nasionalisme dimaksud mengandung gagasan kecintaan terhadap tanah air, mempererat persaudaraan, bela negara untuk membebaskan diri dari kolonialisme. Nasionalisme dalam makna demikian itu, tentu tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Sebaliknya, bahkan merupakan bagian dari Islam karena mencerminkan nilai-nilai universalnya. Nasionalisme yang ditolak oleh Islam, adalah ta’ashshub atau sikap fanatisme dan kecintaan berlebihan terhadap suku atau bangsa sehingga menimbulkan mudlarrat (bahaya) bagi pihak lain di luarnya. Nasionalisme semacam ini sepadan dengan chauvinisme, atau yang dalam istilah Syafi’i Ma’arif disebut “Nasionalisme Ekspansif”,[11] seperti paham yang dianut oleh Hittler dan Israel.[12] Tentu saja hal itu bertentangan dengan ajaran Islam. Adapun “Nasionalisme Formatif” yang mengandaikan kecintaan terhadap tanah air (hubb al-wathan), pembebasan (hurriyyah), dan persaudaraan (ukhuwwah) justru merupakan bagian dari ajaran universal Islam itu sendiri.[13]

Pada konteks seperti inilah kita menempatkan faham universalitas Islam. Islam sebagai agama universal yang melintasi ruang dan waktu, yang senantiasa bersesuaian dan dapat bersinergi dengan setiap generasi dan masa, dan bahkan dapat mengayomi faham nasionalisme yang menjadi basis filosofis dari berdirinya sebuah negara-bangsa.

—————————————————————————

[1] John L. Esposito, The Islamic Threat: Myth or Reality?, New York: Oxford University Press, 1992, hlm. 51.

[2] Ibid., 56.

[3] Kemal H. Karpat (ed.), Political and Social Thought in the contemporary Middel East, New York: Praeger Publisher, 1982, hlm. Xxiv.

[4] Ali Mohammed Naqvi, Islam and Nationalism, http://www.al-islam.org/islamandnationalism/9.htm. https://www.al-islam.org/islam-and-nationalism-dr-ali-mohammed-naqvi/part-seven-islam-and-nationalism.

[5] Taqiyyuddin an-Nabhani, Nizhâmul Islâm, Mansyurat Hizb Al Tahrir, 2001, hlm. 23.

[6] Muhammad Murtadha al-Zabidi, Tâjul-`Arûs, Mesir, Mathba’ah Khairiyah, 1306 H., vol.9/hlm.362.

[7] Muhammad al-Jurjani, al-Ta’rȋfât, Libanon, Dar Al-kutub Al-Ilmiyah, 1983, hlm. 253.

[8] Ahmad Zaki Badawi Dr., Mu’jam al-Mushthalahât al-Siyâsiyyah al-Dauliyyah, Kairo, Dar Al-kitab Al Mishri, 1410 H., hlm. 93

[9] Zaid Abd. Karim, Hubbul Wathan Min Manzhûrin Syar’iyyin, 1417 H., hlm. 22.

[10] Dr. Salwa al-Mahmadi, Mafhûm al-Wathaniyyah wa al-Ta’shil al-Syar’i, Jami’ah Ummul Qura, Makkah, 2009, hlm. 10.

[11] al-Buthi dalam al-Jihad fil-Islam juga menegaskan bahwa konsep jihad dalam arti perang tidak membenarkan Jihad ekspansif. Perang hanya diperuntukkan mempertahankan sesuatu yang sudah dimiliki; mempertahankan negara sebagai tempat tinggal dan sebagai tempat menjalankan syariat Islam. Bahkan Al-Buthi tidak mempermasalahkan seberapapun kadar syariat yang telah diterapkan. (Lihat: Al-jihad Fil-islam, al-Buthi, Libanon, Dar Al-fikr, 1993, hlm. 196-199)

[12] Chauvinisme ini melahirkan rasisme, merasa lebih baik daripada yang lain dan melahirkan penjajahan.

[13] Achmad Muhibbin Zuhri, Konsep Islam dan Nasionalisme serta Implikasinya dalam Kehidupan Bernegara, http://abdulkarimmunthe.blogspot.co.id/2013/04/konsep-islam-dan-nasionalisme-serta.html?m=1, akses internet tanggal 22/08/2016.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *