Pelatihan Dakwah dan Kemasyarakatan bersama KH. Fakhrurrozi


PP MUS sekali lagi memberikan motivasi baru pada santri. Setelah sukses dengan acara pelatihan jurnalistik seminggu yang lalu, kali ini giliran mental berbicara di depan umum para santri yang diuji. Para santri tingkat Ma’had Aly Darul Hikmah diwajibkan mengikuti acara PELATIHAN DAKWAH DAN BERMASYARAKAT Pada malam senin (19/10/2015).

Ust. Muhammad Salim dalam sambutannya menjelaskan, seminar ini diadakan tidak lain adalah demi “memfasilitasi” santri, khususnya demi kebaikan dan kemashlahatan santri Ma’had Aly sebagai bekal saat mereka ber-Iqomah dirumah nanti. “demi kemaslahatan dan begitu perhatiannya masyayikh pada kita saat tak lagi nyantri di sini, maka beliau ngersakke acara seperti ini” ungkap beliau.

Tidak lupa dalam penutup sambutannya, beliau menyampaikan “semoga acara ini bisa bermanfaat, barokah, dan kita dapat menerima serta mempraktekannya”.

Hadir sebagai tutor dalam seminar ini adalah KH. Fakhrurrozi tambakboyo Tuban. Selama dua jam lebih beliau memberikan “gemblengan” mental berdakwah dan bekerja ala beliau sendiri.
Dalam seminar ini beliau mempunyai dua target yang harus tercapai. “sing penting santri gedhe2 iki iso nyampekno ilmu karo nduwe mental kerjo santri” kata beliau sebagai pembuka seminar ini.

Relevan sekali dengan gejala yang terjadi pada santri saat ini, begitu banyak asupan ilmu yang mereka serap, tapi minim pengetahuan dan pengalaman mengenai cara penyampain ilmu yang mereka miliki. Penyampaian yang dapat dicerna dan dipahami oleh masyarakat secara
cepat dan tepat.

Ayat, seperti yang disampaikan beliau adalah hal yang harus selalu diselami oleh santri. Ayat yang memiliki pengertian segala sesuatu yang ada diluar diri kita merupakan modal utama berpidato yang tak kan pernah ada habisnya.

Selain itu, kunci utama untuk berpidato menurut beliau adalah harus mengetahui tentang
-Apa/siapa
-Mengapa
-Bagaimana
-Darimana
-Kemana

“ambil satu topik dan kupas dengan 5 kunci tadi, maka sehari semalam pun pidatomu tak akan kehabisan pembahasan” ujar beliau.

Sementara dalam kemasyarakatan, beliau menitikberatakan dalam permasalahan kerja para santri. Kyai yang juga merupakan alumnus PP MUS ini memberikan satu resep instan untuk menjadi kaya. Yaitu dengan mencintai masyayikh, dan mencintai kedua orang tua.

“Mental kerja haruslah ada, karena dengan berkerja, berarti kita mencari halal yang merupakan suatu bentuk ibadah kepada Allah ta’ala” imbuh beliau.

“tutor kita hari ini hebat!” komentar Zuhad Qomaruddin di sela-sela acara, siswa kelas dua Ma’had Aly Darul hikmah ini nampak bersemangat mengikuti acara ini seperti puluhan santri lainnya.  penyampaian yang jelas dan lantang, didukung dengan praktek yang menarik” imbuhnya dengan tatapan yang masih lekat pada alat tulis ditangannya.

Sudah saatnya santri menunjukkan diri kepada masyarakat. Disaat jebolan sarjana sudah tak terhitung jumlahnya, maka santri adalah sebuah hal langka yang paling dicari saat ini. Tak salah jika KH. Fakhrurozi mengatakan “nak kepingin sugeh ora usah sekolah”. Selain itu masih dalam seminar beliau mengatakan, santri merupakan figur yang sangat cocok untuk dijadikan seorang  pemimpin. Karena mereka telah memenuhi kriteria seorang pemimpin sesuai sifat-sifat yang dimiliki oleh Nabi Muhammad SAW. Sifat tersebut tertera pada ayat al-Quran.

“Sesungguhnya telah datang kepadamu sorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu. sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagi mu, amat berbelas kasih lagi penyayang terhadap orang-orang mu’min. (QS:At-Taubah 128)

“tiga sifat Nabi Muhammad saw tersebut, rela merasa sakit demi kaumnya, mengharapkan kesejahteraan umatnya, serta penuh kasih sayang terhadap umatnya, merupakan jati diri yang harus dimiliki seorang santri” terang beliau.

  1. Fakhrurrozi sendiri ingin program ini tak hanya berhenti sampai disini, namun harus tetap dilanjutkan sampai benar-benar lahir kader-kader da’i yang siap diterjunkan ke masyarakat. Bahkan beliau bersedia mengajak beberapa santri PP MUS untuk terjun langsung dalam
    lahan dakwah yang sedang beliau geluti.

Untuk itu, malam selasa selanjutnya akan beliau lanjutkan pelatihan ini, hingga batas waktu yang belum ditentukan. Namun dari informasi yang dapat redaksi kumpulkan, keinginan beliau tersebut belum dapat dipastikan, karena perlu diadakan sidang dengan masyayikh terlebih
dahulu. “keputusan yang ada hanya sebatas pelatihan malam ini saja, tapi jika beliau menghendaki seperti itu, kami selaku kepengurusan harus mengadakan sidang terlebih dahulu, baru bisa memutuskan, apakah akan diadakan kembali setiap malam selasa atau tidak” kata Ust.  . Izzuddin seusai acara.(ian)