PP MUS Ayo Menulis!!


Pelatihan Jurnalistik 2015 b

Sarang, pada Rabu (13/10/2015) hingga Kamis (14/10/2015) Pelatihan Jurnalistik untuk pertama kali digelar oleh PP MUS Sarang Rembang. Acara yang bertempat di Aula utama PP MUS ini menarik antusiasme santri, terbukti selama 2 hari mereka setia mengikuti acara ini sampai selesai. Pelatihan yang diselenggarakan oleh tim 3 divisi website ppmus.com ini diikuti oleh 35 santri yang sukarela mendaftarkan diri. Mereka semua adalah santri PP MUS yang berasal dari berbagai tingkatan, mulai dari 5 Ibtida’ sampai kelas 3 Ma’had Aly.

Bertempat di Aula utama PP MUS, mereka digembleng selama 2 hari oleh dua narasumber dengan berbagai materi jurnalistik yang mereka berdua kuasai masing-masing. Terhitung mulai selasa sore pukul 16.00 wib, sampai Rabu sore 17.00 wib. Narasumber pertama adalah seorang pemuda yang memiliki nama lengkap Faishol Arijuddin.  Dalam LDJ kali ini, ia menjelaskan teknik membuat kalimat efektif, penulisan esai, serta teknik  wawancara dan penulisan berita. Dalam penjelasannya mengenai teknik penulisan berita, pemuda yang juga aktif menjadi staff di majalah arwaniyyah ini mengatakan “jangan sampai kehendak narasumber melesat jauh akibat berita dengan ungkapan yang anda buat”. pesannya.

Dan sebagai narasumber yang kedua adalah pemuda yang lahir 27 silam di sumenep bernama pena Raedu Basha. Dalam materinya, penulis novel “The Melting snow” ini menjelaskan tentang teknik penulisan cerpen.
Menurutnya, cukup dengan menulis cerpen maka otomatis mampu menulis esai dan feature. “barang siapa yang sudah mahir menulis cerpen saya jamin ia pasti bisa menulis feature dan esai”. Kata pemuda yang masih tercatat sebagai mahasiswa antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gajah Mada ini.

Nasyir, salah satu aktivis asal kudus menyatakan bahwa alasan dia mengikuti acara ini adalah karena ingin mengikuti jejak KH. M. Said Abdurrochim “saya kagum terhadap beliau, orang sesibuk beliau masih bisa meluangkan waktu untuk menulis dalam Risalah santri, ketika membaca tulisan beliau, saya terketuk untuk mengikuti pelatihan ini agar bisa menulis seperti beliau” ungkapnya.

Sejarah peradaban islam menunjukkan bahwa tradisi menulis telah dibangun sejak awal perkembangan islam. Karena hanya dengan menulislah, penyebaran sesuatu yang sangat penting dan bisa dipertanggungjawabkan itu dapat berlangsung lancar dan dapat terus dipantau secara cermat dan akurat.

Untuk mencapai tujuan di atas sangatlah sulit jika melihat kemampuan santri PP MUS menguraikan permasalahan dalam uraian tulisan berbahasa indonesia. Untuk itu diadakanlah pelatihan semacam ini. Alasan ini diungkapkan oleh ketua website sendiri, Ust. Dzal Arief. Ustadz yang juga menjadi ketua panitia dalam acara LDJ kali ini mengatakan “tujuan diadakannya LDJ ini adalah untuk memberikan pengetahuan tentang dunia kepenulisan kepada para santri sejak dini, agar kemampuan santri kelak tidak lagi seperti ini (baca : kurang bisa menguraikan kalimat secara tepat)” “selain itu juga mencari “tenaga baru” redaksi risalah santri maupun mading Ar-Rihlah, serta mencetak bibit-bibit baru yang akan menjaga cahaya kepenulisan dunia Islam, khususnya di Pondok MUS ini”. imbuhnya. (ian)