Profil Pondok MUS


PROFIL PONDOK PESANTREN

MA’HADUL ‘ULUM ASY-SYAR’IYYAH

I.PENDAHULUAN

Kecamatan Sarang secara geografis, terletak di ujung timur Pantai Utara Kabupaten Rembang Jawa Tengah, di sebelah timur berbatasandengan  Kecamatan Bancar, Kabupaten Tuban Jawa Timur, sebelah selatan berbatasandengan Kecamatan Sedan, di sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Kragan, sementara di sebelah utara terdapat Laut Jawa. Kecamatan Sarang beribukota di Sarang, secara adminstratif Kecamatan Sarang menaungi beberapa desa yang berderet di sebagian Pantai Utara Rembang. Diantaranya adalah desa Temperak, Karangmangu, Bajing Jowo, Bajing Meduro, Sarang Meduro, Sendangmulyo, dan paling barat desa Kalipang. Jarak antara kota Sarang dengan kabupaten Rembang adalah + 45 Km. sedangkan dengan ibukota propinsi Jawa Tengah (Semarang) + 156 Km.

Kantor layanan publik Kecamatan Sarang berada di desa Kalipang (kantor Kecamatan), desa Sendangmulyo (Kantor Polsek, Koramil, dan Pasar), desa Sarang Meduro (Tempat Pelelangan Ikan), sementara di desa Karangmangu terdapat beberapa Pondok pesantren, di antaranya Lembaga Pondok Pesanten Ma’hadul ‘Ulum Asy Syar’iyyah [LP2 MUS].

Desa-desa sepanjang pantai tersebut mayoritas penduduknya adalah nelayan (buruh maupun pemodal). Selain di sebut kota ikan (karena sumber kehidupan penduduknya dari hasil penangkapan ikan), Sarang juga dikenal sebagai kota santri (pusat Pondok Pesantren berada di desa Karangmangu).

II.SEJARAH BERDIRINYA LEMBAGA PONDOK PESANTREN MUS

Pada tahun 1850, bermula dari sebuah pengajian monolog di sebuah surau (musholla) yang dipimpin oleh seorang tokoh yang sangat kharismatik di lingkungan masyarakat nelayan Sarang bernama KH. Ghozali Bin Lanah. Pada saat itu beliau melihat kondisi masyarakat Sarang masih sangat jauh dari norma-norma Islam. Sebagai sarana dakwahnya beliau mendirikan sebuah lembaga pendidikan non formal,  yang berupa Pondok Pesantren (inilah pondok pesantren pertama yang menjadi cikal bakal berdirinya beberapa Pesantren di Karangmangu Sarang).

Dalam perkembangannya, lembaga ini menjadi salah satu prioritas bagi mereka yang ingin mendalami ilmu-ilmu agama Islam. Murid-muridnya tidak hanya berasal dari wilayah Sarang, akan tetapi banyak yang berasal dari luar daerah. Salah satu murid Beliau yang sangat terkenal adalah KH. Syua’ib bin KH. Abdurrozzaq, yang selanjutnya diambil menantu oleh KH. Ghozali untuk meneruskan perjuangan Beliau dengan dibantu oleh KH. Fathurrohman (putra KH. Ghozali).

Sepeninggal KH. Ghozali tongkat perjuangan dipegang oleh menantu beliau (KH. Syua’ib bin KH. Abdurrozzaq) dan dibantu oleh dua putra KH. Syua’ib (KH. Ahmad dan KH. Imam Kholil). Pada tahun 1928 M. KH. Syua’ib meninggal dunia dengan menorehkan sejarah panjang perjuangan.

Dari tahun ke tahun, jumlah santri yang mengaji di lembaga ini semakin bertambah banyak. Hal ini menggugah keprihatinan KH. Ahmad Syu’aib yang melihat kurang memadainya fasilitas, karena kurangnya lokal untuk  bermukim bagi para santri yang berasal dari luar daerah. Akhirnya, KH. Ahmad dengan dukungan dan bantuan menantu Beliau, KH. Zubair Dahlan (ayahanda KH. Maimoen Zubair), berinisiatif untuk mendirikan lembaga baru yang diberi nama Ma’hadul ‘Ulum Asy-Syari’yyah (MUS).

Pada perkembangannya Pondok pesantren ini terus  mengalami kemajuan yang cukup signifikan. Semenjak dari asuhan KH. Ahmad Syua’ib (w. 1967 M) kemudian diteruskan oleh putra Beliau, KH. Abdurrochim Ahmad (w. 21 Romadlon 1422 H / 2001 M) hingga sekarang Pondok Pesantren MUS telah memiliki santri dengan jumlah 1.200 (terdiri dari 800santri putra dan 400 santri putri) . Saat ini Pondok Pesantren MUS telah memasuki generasi ketiga di bawah asuhan KH. M. Sa’id Abdurrochim dibantu oleh KH. M. Adib Abdurrochim dan KH. M. Ahdal  Abdurrochim.

Seiring dengan berjalannya waktu, Pondok Pesantren MUS terus mengalami perkembangan. Tidak hanya santri dari kalangan remaja dan dewasa, santri anak-anakpun banyak menuntut ilmu di dalamnya. Untuk menjaga kwalitas belajar para santri, khususnya santri dari kalangan anak-anak, maka pada bulan November tahun 2007 M, muncul ide untuk membuat pondok khusus anak-anak. Hal ini dianggap perlu demi menjaga efektivitas dan konsentrasi belajar santri seusia mereka. Karena pada usia seperti mereka diperlukan  pendidikan dan pengajaran serta penanganan khusus.

Untuk merealisasikan hal tersebut, maka pada akhir tahun 2007 dibangunlah Pondok Pesantren baru khusus anak- anak yang diberi nama Ma’had Tarbiyatul Athfal. Dimana Pondok Pesantren ini masih berada di bawah naungan Pondok Pesantren Ma’hadul ‘Ulum Asy-Syari’yyah (MUS). Pembangunan Ma’had Tarbiyatul Athfal ini dibiayai oleh sumbangan tidak mengikat yang bersumber dari alumni dan para dermawan.

III.KEADAAN MASYARAKAT SEKITAR PESANTREN

Stabilitas ekonomi masyarakat Sekitar Pondok Pesantren MUS, mayoritas penduduknya bermatapencaharian sebagai nelayan, sesuai dengan letak geografisnya yang berada di tepi laut, hanya sebagian kecil saja yang bercocok tanam dan berniaga. Secara umum dapat dikatakan bahwa masyarakat sekitar Pondok Pesantren ini tergolong kelas menengah. Sedangkan secara statistik keberagamaan masyarakat di sekitar Pesantren berkisar 99,9 % adalah penganut Agama Islam yang taat, sehingga sangat menunjang keberadaan Pondok Pesantren.

Respon masyarakat sekitar terhadap Pondok Pesantren dapat terlihat dari partisipasi dan antusias mereka dalam pengajian rutin yang sudah turun menurun, diadakan setiap satu bulan sekali tepatnya Rabu Wage (Selapanan). Di samping itu masyarakatpun dapat memanfaatkan para santri Pondok Pesantren MUS dalam kegiatan-kegiatan keagamaan semisal: kegiatan Maulidiyyah, Tahlil dan lain-lain.

Masyarakat sekitar Pondok Pesantren mempunyai hubungan erat yang dijalin oleh masyayikh dan para ustadz, agar mereka ikut merasa bertanggung jawab atas keamanan, kedisiplinan dan perkembangan Pesantren.

Sebagai institusi pendidikan dan pengajaran ilmu-ilmu agama, pesantren mempunyai peranan besar dalam proses transformasi sosial, budaya, dan ekonomi masyarakat sekitarnya. Karena bagaimanapun pesantren merupakan sub sistem komunitas yang lebih besar sehingga mampu mendapatkan kepercayaan yang besar dari masyarakat.

IV. FASILITAS

a.Santri Putra

Kamar tidur 50 kamar
Ruang tamu 2 kamar
Aula 2 buah
Musholla 1 buah
Perpustakaan 2 buah
Kantor 3 buah
MCK 52 buah
Kantin 4 buah
Dapur umum 2 buah

b.Santri Putri

Kamar tidur 30 kamar
Raung tamu 2 kamar
Aula 1 buah
Musholla 1 buah
Perpustakaan 1 buah
Kantor 3 buah
MCK 25 buah
Kantin 2 buah
Dapur umum 1 buah

 

V. KEADAAN SANTRI, KYAI DAN GURU/USTADZ

Santri yang mondok / belajar di Pondok Pesantren Ma’hadul ‘Ulum Asy Syar’iyyah bejumlah + 1200 (teridiri dari 800 santri putra 400 santri putri) meliputi santri yang bermukim berjumlah + 1075 dan santri yang tidak menetap + 175 santri. Santri tersebut  berasal dari sekitar Sarang dan beberapa kabupaten yang berada di Jawa dan luar Jawa seperti Kalimantan dan Sumatra.

Jumlah Kyai / Masyayikh adalah 6 orang, meliputi; 1 Pengasuh dan 5 anggota dewan Mustasyar). Ustadz / Guru berjumlah 45 orang, yang mayoritas berpendidikan madrasah tingkat Aliyah.

VI. KEGIATAN PROSES BELAJAR MENGAJAR PON-PES MUS

Proses belajar mengajar di Pon Pes MUS yang wajib diikuti oleh seluruh santri dimulai menjelang subuh.

Pkl 04.30 s/d 05.30             : Bangun Sholat Subuh.

Pkl 05.30 s/d 06.30             : Mengaji kitab salaf.

Pkl 06.30 s/d 07.00             : Makan pagi dan persiapan sekolah.

Pkl 07.00 s/d 12.00             : Belajar klasikal di Madrasah Ghozaliyyah Syafi’iyyah

Pkl 12.00 s/d 12.30             : Makan siang dan jama’ah Sholat Dhuhur.

Pkl 12.30 s/d 14.00             : Mengaji kitab salaf.

Pkl 14.00 s/d 15.00             : Istirahat.

Pkl 15.00 s/d 15.30             : Jama’ah Sholat Ashar.

Pkl 15.30 s/d 17.00             : Mengaji kitab salaf.

Pkl 17.00 s/d 18.00             : Istirahat

Pkl 18.00 s/d 18.30             : Jama’ah Sholat Maghrib.

Pkl 18.30 s/d 19.30             : Mengaji kitab salaf.

Pkl 19.30 s/d 19.45             : Jama’ah Sholat Isya’.

Pkl 19.45 s/d 21.00             : Belajar bersama (Study Club)

Pkl 21.00 s/d 23.30             : Musyawaroh (Diskusi)

Pkl 23.30 s/d 04.30             : Istirahat

Di samping kegiatan rutin, di pesantren ini juga diadakan kegiatan-kegiatan ekstra kurikuler seperti, pembacaan dziba’iyyah, khithobah, diskusi ilmiah mingguan Majma’ Mubahastah Masail Syar’iyyah (M3S), kuliah tujuh menit, dan majalah dinding Ar-Rihlah.

VII. SUMBER DAN USAHA EKONOMI

Sumber dana utama Lembaga Pondok Pesantren Ma’hadul ‘Ulum Asy Syar’iyyah (LP2 MUS) adalah pemasukan dari unit usaha yang berada di bawah naungan pondok serta iuran para santri/siswa setiap bulan.

VIII. KEGIATAN USAHA YANG SUDAH BERJALAN

Hingga saat ini, kegiatan usaha Lembaga Pondok Pesantren Ma’hadul ‘Ulum Asy Syar’iyyah (LP2 MUS) yang sudah beroperasi dengan optimal mulai tahun didirikan (1974) hingga saat ini adalah koperasi ” DWI BHAKTI”. Optimalisasi usaha koperasi ini, masih sebatas pemenuhan kebutuhan sehari-hari para santri dan masyarakat sekitar pondok pesantren.