PUNCAK PERINGATAN ROJABIYYAH DAN SETENGAH ABAD HAUL KH. AHMAD BIN SYU’AIB


haul 1 haul 2 haul 3 haul 4 haul 5 haul 6 haul 7

 

Setelah melewati sepekan lebih rangkaian acara, mulai dari Musyawarah Kubro yang berlangsung seminggu yang lalu, kemudian dilanjutkan dengan ajang kreasi musabaqah, dan kemarin, mulai acara tahtiman sampai tahlil Umum yang baru saja selesai pada jam 16.30, kamis 28 April. Maka hanya berselang kurang dari 2 jam, Acara Puncak Peringatan rojabiyyah dan setengah Abad KH. Ahmad bin Syu’aib akhirnya dimulai.

Ratusan alumnus PP MUS yang sejak siang memadati area pondok, terus bertambah jumlahnya hingga acara dimulai. Saling sapa, saling berjabatn tangan, dan tukar senyuman adalah pandangan yang spontan tercipta dimana-mana. Mereka semua satu sama lain bercerita pada teman yang dulu pernah saling kenal, entah teman satu kelas semasa sekolah. Atau sekedar pernah erat menjadu teman cangkruan. Mungkin inilah yang menjadi alasan menjadikan acara Haul seprti ini sebagai acara perekat Alumni Ma’hadul Ulum Assyar’iyyah, selain tujuan mereka mengikuti acara ini.

Suasana riuh kian terasa saat opening acara dimulai dengan penampilan memukau grup rebana Al-Muqtashida dari langitan. Membawakan sekurangnya 6 lagu, mereka berhasil menyedot perhatian para hadirin. barulah sekitar jam 8 malam, pembawa acara menunaikan tugasnya. Lugas nan cerdas MC Membacakan rangkaian seluruh acara puncak Haul ini.

Selanjutnya, pembacaan ayat suci al-Quran dilantunkan oleh Al-Ustadz M. Yusuf Kholil dari Rembang dan kemudian dilanjutkan dengan pembacaan tahlil oleh KH. Yahya Romli dari Tuban. Dan untuk kedua kalinya, Grup rebana Al-Muqtashida menampilkan suara merdu mereka dalam Pembacaan Sholawat Nabi.

Dan menapaki acara selanjutnya KH. Said Abdurrachim hadir mewakili sambutan dari keluarga dan panitia. Beliau menyampaikan betapa pentingnya peran pondok pesantren saat ini.

” Alhamdulillah bisa mempertahankan pendidikan salaf dan akhlak yang telah diajarkan oleh para Anbiya’. Tiang agama di Indonesia adalah pesantren, karena hayatul islam bil ilmi, dan terutama lembaga yang paling sibuk mengkaji agama 24 jam adalah pondok pesantren.”

Beliau juga menjelaskan tentang fungsi dan tujuan sistem salaf yang ada di pesantren “Termasuk fungsi disiplin pada pondok pesantren adalah sebagai lembaga tarbiyah, lembaga pendidikan moral akhlaq sangat ditekankan di pondok pesantren, banyak sekali peraturan yang arahnya untuk mmperbaiki akhlaq, mengharuskan berjamaah, bergaul dengan baik, hal-hal negatif dilarang tujuannya agar mempunyai moral dan tingkah yang baik, tujuannya agar bisa menyebarluaskan, nasyrul ilmi di masyarakat. Karena yang pertama kali dilihat masyarakat adalah moral, dengan moral yang baik mereka akan mudah menerima lulusan pondok pesantren , ini adalah fakta Alhamdulillah masyarakat masih mempercayai lulusan Pondok Pesantren dalam bidang agama.

Salah satu fungsi Pondok Pesantren adalah sebagai lembaga pengkajian penelitian, musyawaroh bahtsu, dan kajian permasalahan yang berkembang di masyarakat. Disana juga terbentuk pengkaderan untuk mandiri dan berinteraksi dengan masyarakat, dan lembaga pengabdian untuk masyarakat, karena ilmu yang didapat digunakan untuk memberi pencerahan ke masyarakat, agar mereka bisa memperoleh manfaat. Maka dengan itu, eksistensi Pondok Pesantren akan kekal ila yaumil qiyamah”

Sanbutan yang kedua, langsung disampaikan oleh Bupati Rembang Bpk. H. Abdul Hafidz. Alumnus PP MUS yang mondok selama hampir 10 tahun ini, mengungkapkan rasa terimakasihnya atas kerjasama para santri dalam membersihkan sampah di kampung nelayan pada hari bumi, 22 April yang lalu. Beliau juga mengingatkan bahwa kita boleh maju tapi tetap harus memperhatikan apa yang dicita-citakan oleh masyayikh.

Sebagai mauidhoh, yang pertama kali menyampaikannya adalah KH. Jaiz Badri dari Situbondo.Dengan tegas dan gaya mauidhoh yang penuh semangat, beliau memperingatkan kita sebagai ahli ilmu, jangan hanya mengaku sebagai ahli ilmu tapi tidak memiliki kapasitas sebagai ahli ilmu.

“Di dalam Kitab Mudawamatunnufus, karangan Imam Ibn Hazm “Laafata minal ulum waahliha adhorru minaddukholaa” tidak ada bahaya bagi ilmu dan ahlinya melebihi bahayanya para dukhola’, orang-orang yang berpenampilan ahli ilmu, tapi dia bukan ahli ilmu, dia hanya berpenampilan ahli tafsir, ahli fiqh, tp dia bukan ahlinya.

Ini dia yang menjadi musibah saat ini diindonesia bagi kita umat islam. Mereka bukan fuqoha’ tapi bergaya fuqoha’. Sehingga naudubillahimindalik, sikap dan perilakunya membingungkan umat, maka dari itu marilah kita kembali kepada nabi Muhammad SAW. Karena imam malik bin anas berkata, setiap orang ucapannya bisa diterima bisa ditolak, kecuali baginda nabi besar Muhammad SAW. Hanya rosulullah parameter, yang bisa kita jadikan standar dan patokan dalam bersyari’ah.”

Mauidhoh yang kedua disampaikan oleh KH. Drs. Ahmad Bukhori Masruri dari Semarang, dikarenakan Al-Habib Umar Mutohhar yang djadwalkan, berhalangan hadir.

Dalam kata demi kata yang beliau sampaikan, beliau sangat memotivasi kita para santri untuk jangan sampai minder, ataupun takut dan ragu akan kegunaan ilmu salaf yang kita pelajari, meski belajar dengan metode “iki,iku,utawi” insyaAllah ilmu kita akan mampun meghadapi tantangan zaman.

“tri, ojo wedi tri, senajan pondok pesantren tetep nerangke nganggo model salaf, tetep gunakke iki, iku, utawi, tapi hidup dijaman apapun insyaAllah survive. Kyai yang pernah diajari dakwah langsung oleh mbah mun ini pun menjelaskan fungsi utama dari para pendalam agama seperti kita sebagai santri.

” Jan.jane tugase santri kui Falau laa Nafaro Min Kulli Firqotin Minhum Thooifatun Liyatafaqqohuu Fid-Diin, wa Liyundziruu Qoumahun idzaa roja’uu ilaihim

ojo berjuang kabeh, ojo dadi tentara kabeh, ojo dadi pegawai kabeh, kudu ono sing mondok, perlune tafaqquh fiddin, nak wis mendalami ilmu neng pondok, dakwah neng gone kaume, nah sayange neg psantren durung diwarahi carane dakwah, kekurangan pesanteren perlu adanya guru ilmu dakwah atau fiqhul dakwah”

Dengan ini, lengkap sudah rangkaian acara Peringatan Rojabiyyah dan Setengah Abad Haul KH. Ahmad bib Syuaib. Semoga beliau semua ditempatkan di tempat terbaik dan terindah di sisi Allah Swt. Dan semoga kita semua bisa dan diberi kemudahan untuk meneruskan perjuangan beliau-beliau dalam menyebarkan ilmu Assyar’i.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *