Sidang Tri Wulan ke-I PP. MUS masa khidmah 1435-1436 H.


sidang triwulan I 2014

Sarang, (21/11/14).Sebagai sebuah organisasi, dewan pengurus PP. MUS memiliki agenda rutin yang diadakan setiap tiga bulan, yakni sidang evaluasi Tri Wulan. Agenda yang biasanya dilaksanakan di tengah penyelenggaraan ikhtibar MGS ini, layaknya sidang paripurna DPR, bertujuan untuk mengevaluasi kinerja dewan pengurus secara keseluruhan selama tiga bulan.
Begitu pula yang terjadi pada Kamis malam Jum’at (20/11) kemarin. Dewan pengurus kembali menggelar sidang tri wulan ke-I untuk masa khidmah 1435-1436 H. hadir dalam sidang kali ini K. Juwaini Hambali, K. M. Yasin, K. M. Sho’im, dan K. Syamsuddin sebagai Dewan Mustasyar.Acara yang dibuka oleh Ainun Na’im sebagai MC ini dimulai sejak pukul 09.30 WIB, setelah kegiatan rutin pembacaan maulid Nabi SAW. Setelah pembukaan acara oleh MC, dilanjutkan oleh pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an oleh Ahmad Arifin, santri asal Sale, Rembang, yang berlanjut dengan sambutan ketua pondok PP. MUS, Ust. Muh. Salim.

Dalam sambutannya, ketua pondok selama dua periode ini menekankan pentingnya kerja sama yang erat di antara dewan pengurus. Sebagai sebuah organisasi, kata beliau, dewan kepengurusan sudah tentu saling berkaitan satu sama lain. Oleh karena itu, koordinasi yang erat serta komunikasi yang lancar sudah menjadi kewajiban tak tertulis, untuk kelancaran kinerja setiap anggota. Disinilah letak pentingnya sidang tri wulan, sebagai bentuk koordinasi menyeluruh antar anggota, baik dari bawahan maupun atasan.
Agenda utama sidang dimulai ketika Ust. M. Syakir membacakan laporan pertanggung jawaban pengurus PP. MUS tri wulan ke-I. dilanjutkan dengan evaluasi dan pembahasan laporan yang dipimpin oleh Ust. M. Yusuf Hakim. Terdapat beberapa laporan yang menjadi sorotan kali ini. Beberapa diantaranya, masih terdapat santri yang terlambat dalam melaksanakan kewajiban membayar iuran pendaftaran. Padahal sebagaimana sudah jamak berlaku di berbagai lembaga pendidikan, pembayaran iuran merupakan sebuah kewajiban bagi setiap anggota. Bahkan khusus di PP. MUS, kewajiban ini sudah tertuang dalam Qawanin Asasiyah (Peraturan Induk/UUD) pesantren. Untuk mengatasi hal ini, sesuai petunjuk dewan mustasyar, anggota sidang sepakat untuk lebih menekan lagi penarikan iuran wajib, terutama bagi para santri yang masih terlambat dalam menunaikan kewajibannya. Bahkan jika dirasa perlu, para penunggak kewajiban bisa dipanggil untuk dimintai keterangan tentang penyebab keterlambatannya.
Selain itu, kegiatan jama’ah wajib lima waktu, yang mulai tahun ini lebih digiatkan pelaksanaannya, juga tak luput dari sorotan. Perlu diketahui, sholat berjama’ah lima waktu menjadi kewajiban bagi setiap santri PP. MUS tanpa terkecuali. Bagi yang melanggar, mereka akan dikenai sanksi berupa piket membersihkan halaman pesantren. Dalam masalah ini, sebagian anggota sidang mempertanyakan banyaknya santri yang menjadi ma’mum masbuq. Sempat diusulkan supaya diberi batas mimimum keterlambatan jama’ah, sehingga bagi santri yang hanya mengikuti rokaat terakhir dalam sholat Dzuhur misalnya, dianggap tidak mengikuti jama’ah dan bisa diberi sanksi.
Usulan ini sempat menjadi pembahasan alot sesama anggota sidang, bahkan hampir menjurus pada saling menjatuhkan sesama anggota. beruntung K. Juwaini sebagai dewan mustasyar mampu menengahi perdebatan tersebut. Beliau menyarankan supaya dewan pengurus lebih giat lagi dalam mengobrak para santri untuk segera berjama’ah. Adapun usulan tentang ma’mum masbuq, K. M. Yasin berkomentar, “Dapat fadlilah jama’ah kok tidak dianggap berjama’ah?!” anggota sidang pun sepakat untuk tetap menganggap ma’mum masbuq sudah berjama’ah.
Selain dua pembahasan tadi, masih banyak kinerja pengurus yang disoroti dalam tri wulan kali ini. Secara garis besar, kinerja dewan pengurus PP. MUS untuk tri wulan pertama ini masih perlu beberapa pembenahan di berbagai bidang. Terlebih melihat beberapa perubahan besar yang terjadi pada tahun ini, seperti penutupan gerbang total sejak setelah Isya’ sampai setelah sholat Shubuh. Penutupan gerbang ini mengharuskan semua santri PP. MUS tanpa terkecuali dilarang keluar pesantren selama waktu tersebut, kecuali yang memiliki udzur syar’i, seperti kegiatan yang bersinggungan dengan MGS.
Dalam sidang ini juga dilaporkan bahwa jumlah santri putra PP. MUS tahun ini mencapai 821 orang. Mereka terbagi dalam empat rubath(asrama), yakni Rubath I, Rubath II, Rubath III, dan Rubath TA (Tarbiyatul Athfal/Pondok kecil). Sebagian besar santri tersebut merupakan siswa MGS (Madrasah Ghozaliyyah Syafi’iyyah) yang merupakan madrasah sentral dalam lingkungan pesantren Sarang. Sebagian kecil lainnya –sekitar 85 orang- merupakan siswa Dirosah Khoshshoh (DKH-Sekolah internal PP. MUS).
Sidang tri wulan ke-I ini ditutup dengan mauidzoh hasanah oleh K. Juwaini Hambali. Dengan gayanya yang khas, beliau mengingatkan pentingnya totalitas dalam berkhidmah. Karena apa yang dilakukan di pesantren hasilnya akan terlihat ketika sudah pulang ke rumah. Terkait hal ini, beliau mengutip sebuah maqalah (kata mutiara), من خَدَمَ خُدِمَ , “Barangsiapa yang ikhlas dalam melayani maka ia juga akan dilayani.”
Beliau juga memperingatkan dampak negatif dari saling menyalahkan. Sebuah masalah tidak akan selesai dengan saling menyalahkan. Jika dirembuk bersama dengan hati yang dingin, kata beliau, masalah tersebut akan dengan mudah diselesaikan. Selain itu beliau juga menyarankan dewan pengurus, dalam menjalankan tugasnya, untuk berkhidmah (bertugas) dengan apa adanya, namun tetap total dalam pelaksanaannya. Jangan terlalu mengeluh dalam bertugas. Dan agenda sidang ditutup dengan do’a yang penuh khidmad oleh K. M. Yasin. (CCN).