Sidang Triwulan I PP MUS; Evaluasi program kerja


Sarang, Untuk meningkatkan kinerja dan mengoreksi kekurangan dalam sebuah organisasi, maka dibutuhkan adanya evaluasi. Begitupula yang dilakukan oleh kepengurusan PP MUS pada kamis malam (12/11/2015). Acara yang lazim diadakan di tengah berlangsungnya ikhtibar MGS ini, menjadi ajang bagi para pemegang amanat di PP MUS ini untuk mencari titik-titik program kerja yang berjalan kurang optimal, dan mencari solusi untuk mengatasinya. Selaku dewan mustasyar dalam sidang kali ini adalah KH. Ahdal Abdurrochim, K. Juwaini Hambali, KH. Zamroji Jasri dan juga KH. Faishol Mu’ith.

Sidang dibuka oleh Bpk. Harun Arrasyid yang dilanjutkan dengan sambutan oleh ketua pondok Ust. Muh. Salim. Dalam sambutannya, beliau mengingatkan agar agenda kerja yang telah diamanatkan oleh para masyayikh dapat dilaksanakan.

Berkaitan dengan kendala-kendala yang menghambat berjalannya program itu, seperti kurang aktifnya santri dalam mengikuti musyawaroh, tidak ikut berjamaah, dan sebagainya, semua itu dapat diatasi dengan ta’ziran (hukuman) kepada yang bersangkutan.

Beliau juga berpesan agar tidak mengesampingkan tugas kita sebagai santri, yaitu bertafaqquh fiddin, meskipun disibukkan dengan khidmah apapun itu, entah ndalem, roan, ataupun kepengurusan. Terutama dalam hari-hari yang serba sibuk ini, yang diramaikan dengan adanya
pembangunan rubath Manba’ul Ulum, serta rencana  pembuatan tempat MCK Biogas pekan depan. Terakhir beliau berharap, “semoga semua program dapat berjalan dengan lancar, menghasilkan kader-kader yang bertafaqquhfiddin, benar-benar berpegang teguh pada agama.”
Acara selanjutnya adalah pembacaan Laporan Triwulan I oleh Ust. Muhammad Al-Hasan. Yang disusul dengan Acara inti yaitu pembahasan dan evaluasi kinerja Triwulan I dengan moderator Ust. Hidayatillah.

Santri Ndalem akan direlokasi

Yang pertama menjadi perbincangan hangat malam itu adalah mengenai polemik lokalisasi khodim ndalem. Penempatan khudama’ pada satu titik ini sangat perlu dilakukan untuk mempermudah pemantauan kegiatan pondok yang wajib mereka kerjakan. Mereka tentunya sudah mengerti bahwa selain berkhidmah, mereka masih memiliki kewajiban untuk mengikuti kegiatan wajib Pondok. Ndalem tidak bisa dijadikan alasan untuk lari dari kewajiban itu.

Ustadz Muh. Salim mengungkapkan, sebenarnya wacana untuk melokalisir anak-anak dalem ini sudah ada sejak dulu. Beliau romo yai KH. Said Abdurrochim sendiri yang mengusulkan hal tersebut.  Bahkan beliau juga memberi nama “Darul Ghoroba'” sebagai tempat peristirahat sementara bagi mereka nantinya.

Namun seiring dengan berjalannya waktu, penempatan “Darul Ghuroba” tidak terkhusus pada satu titik, namun cukup dengan menempatkan mereka pada lahan, tempat mereka selama ini mencari berkah. Seperti di dalam warung2 pondok, pengairan, penerangan, dan juga khadim di dalam rumah-rumah para masyayikh.

Masalah yang menjadi langganan pembahasan dalam triwulan pun turut diangkat kembali. Seperti ketidakaktifan santri mengikuti jamaah, serta ketidakhadiran mereka saat mendapat panggilan akibat pelanggaran yang mereka lakukan.

Selanjutnya hal yang tak kalah penting untuk ditindaklanjuti adalah kendala dari bagian pengajian Al-Quran. Kegiatan yang khusus dicanangkan bagi anak-anak ibtida’ ini sedikit tersendat kinerjanya akibat anak-anak yang terlihat kurang aktif dalam mengikuti kegiatan.

Sempat terjadi tarik ulur yang cukup lama dalam mencari pelaku yang dapat dikambinghitamkan akibat permasalahan ini. Dari pihak pengajar dan pengawas Ma’had Tarbiyatul Athfal sama-sama mengakui telah menjalankan tugas mereka secara optimal. Untungnya masalah ini berhasil ditengahi oleh K. Juwaini Hambali yang mengatakan. “Al-Qur’an adalah barang yang sangat penting, harus ada sidang sendiri setiap bulannya, agar masalah anak yang kurang aktif dan kurang lancar dalam membaca dapat cepat teratasi”. Akhirnya diputuskan bahwa permasalahan ini akan dibahas pada sidang intern kepengurusan Ta’limul Qur’an sendiri.

Banyak sekali kendala-kendala yang dikeluhkan dalam sidang kali ini, seperti tidak berjalannya fungsi perpustakaan dengan semestinya, isi website PP MUS yang masih itu-itu saja, dan juga ketidak jelasan koordinasi kebersihan masing-masing rubath, terutama rubath II yang sedang dalam tahap renovasi.

Khusus rubath II memang banyak mengalami kendala pada tahun ini. Kamar-kamar yang terpisah menjadi masalah utamanya. Perlu diketahui bahwa untuk sementara rubath II terpisah menjadi 3 bagian. Yaitu kamar NH yang masih berada pada tempat aslinya, kemudian kamar MU yang dipindahkan ke ruangan Ma’had Aly di atas garasi, dan ke belakang dekat dengan kali atau kamar pinggir kali (KPK).

Namun Alhamdulillah, ketua rubath II Ust. Nur Shobah menginformasikan bahwa pihaknya sudah bekerja semaksimal mungkin, kendala kamar yang jauh dari jangkauan bisa diatasi dengan kerjasama dan koordinasi yang baik antara anggota kepengurusan lainnya.

Antar pengurus harus kompak

Sebelum mau’idhoh hasanah disampaikan, beliau KH. Zamroji Jasri menyempatkan untuk memberi sedikit nasihat kepada seluruh anggota sidang yang hadir. Dalam sistem kerja sebuah organisasi tidak boleh ada individualisme setiap anggotanya. Jangan sampai dalam kepengurusan ada ocehan “itu bukan tugasku” atau “yang penting tugasku sudah selesai”. Beliau menyampaikan “kami berharap pada yang punya jabatan, semoga apa yang telah kita bicarakan malam ini, akan berjalan dengan baik, ada rasa kebersamaan, perhatian dan kepedulian. Jangan sampai cuek dengan tugas2 yang lain, harus saling membantu, jangan hanya diam atau paling tidak mengingatkan”.

Acara yang terakhir adalah Mauidhoh hasanah oleh KH. Ahdal Abdurrochim. Evaluasi adalah tujuan utama diadakannya sidang semacam ini. Namun ada tujuan lain yang tak kalah penting menurut beliau, yaitu mengingat kembali bahwa apa yang kita lakukan dalam kepengurusan adalah sebuah bentuk khidmah kepada para masyayikh, kita harus bersungguh-sungguh dalam menjalankannya. Yakin bahwa khidmah bukanlah hal yang sia-sia, apa yang kita curahkan pasti ada balasan agung nantinya, yang akan sangat kita rasakan saat kita kembali ke rumah.

Dengan kesantunan beliau yang khas dalam menyampaikan mauidhoh, beliau menuturkan bahwa sejatinya tujuan utama sebenarnya manusia adalah belajar, terus belajar dan terus menerus belajar, di manapun manusia hidup, ia dituntut agar selalu belajar. Belajar ilmu agama dan belajar berteman saat masih menjadi santri, belajar akan beratnya memikul tanggungjawab saat menjadi pejabat dalam kepengurusan, belajar cara berkumpul dengan masyarakat dan tetangga saat kembali ke rumah masing-masing.

Kita semua dituntut untuk terus belajar, tidak ada batasan umur dan waktu, tidak ada urusannya entah ia guru ataupun kyai, mereka semua harus terus belajar. Mengutip perkataan Kyai Ahmad bin Syuaib, beliau menuturkan “belajar ilmu Agomo ora iso sekejap, butuh waktu lan ketekunan, sebab wong iku ora reti kapan pangeran bukak atine, iso ugo saat dipondok, saat ngulang, utowo saat terjun teg masyarakat”. (ian)