Tela’ah Singkat Dampak Negatif Musik


Bicara soal musik terlebih saat dikaitkan dengan kebutuhan hidup, bisa jadi sebuah perbincangan menarik, terlebih saat menitik pada dampak negatif maupun positif-nya. Berbagai momen -tak asing lagi ditelinga- selalu tak lepas dari iringan musik. Segala bentuk euforia, kebahagiaan, kesedihan, suasana hati bagaimanapun selalu tergambarkan dalam nada dan ritme.

Tanpa musik mungkin hidup sudah dianggap tak berwarna lagi. Bahkan mungkin ada saja orang yang tak mampu hidup tanpa musik, di telinganya selalu terpasang headset atau earphone. Menjelang tidur, saat bekerja, berkendara bahkan saat belajar sekalipun, seakan pelajaran tak mampu menjejali otak bila tak sambil mengangguk-angguk dalam iringan nada. Segala bentuk ekspresi tergambarkan dari para pendengar musik, mulai gerakan kepala, tangan, celotehan, bahkan yang tadinya duduk bisa berdiri menari-nari tersihir dalam kegilaannya.

Terlepas dari jawaban apakah musik sudah menjadi kebutuhan atau tidak, ada baiknya sedikit menela’ah dampak negatif musik melalui perspektif Islam utamanya pada pendapat Said Hawwa dalam kitabnya Al-Islam. Berikut akan saya sajikan sedikit analisa beliau dalam menilai dampak negatif musik terhadap jiwa.

Menurut beliau Said Hawwa, ketergantungan pada musik secara berlebihan dapat menjadikan jiwa manusia lemah dan rapuh. Membuat manusia cenderung bermalas-malasan, enggan terbebani tanggung jawab dan anti dengan kerasnya hidup. Hal ini merupakan sebuah bentuk problematika yang secara alamiah terlahir akibat kesalahan kecil yang terpelihara hingga seakan telah menjadi sebuah kebutuhan hidup. Dimanapun, kapanpun tanpa musik semua jadi terasa hampa.

Sejarah manusia mencatat tak ada satupun golongan suatu kaum yang tenggelam dan terlalu bergantung pada musik, mereka memiliki jiwa kompetetif tertanam dalam diri mereka. Mereka justru dianggap buruk jika tampak berleha-leha dalam kegemaran mendengar alunan-alunan musik.

Musik merupakan salah satu titik kulminasi kesenangan. Kesenangan sendiri merupakan puncak dari kehidupan duniawi, sehingga ketergantungan manusia pada musik menjadikan ia berada pada posisi yang rentan. Sebuah posisi yang berpotensi menggiring mereka berpaling dari perkara-perkara ukhrowi utamanya dalam wujud peribadatan, melalaikannya hingga terbukti sebagian besar para pecinta musik adalah mereka yang cenderung lebih memprioritaskan kesenangan duniawi ketimbang ukhrowi.

Kalau diperhatikan, kehidupan para pecandu musik baik laki-laki maupun perempuan, faktanya mereka merasa berat terhadap beban-beban tanggung jawab, mereka cenderung menghindar –kalau tidak bisa dikatakan lari- dari tanggung jawab yang seharusnya mereka pikul. Jika ternyata mereka merealisasikan tanggung jawab mereka, maka itu hanya sebagian dan sebagian yang lain terbengkalai tak jelas arahnya.

Pada hakikatnya musik merupakan ancaman bagi keluhuran manusia sebagai makhluk yang dituntut mampu menjadi khalifah di bumi. Musik menjelma menjadi pendorong hati mereka menuju pada indah gemerlap dunia dan melupakan tugas sucinya sebagai pembenah kerusakan bumi.

Secara umum dalam sehari waktu manusia terbagi menjadi beberapa waktu, waktu untuk bekerja, berkarya, istirahat (tidur), makan dan selebihnya merupakan waktu luang. Waktu luang ini, sudah seharusnya mereka gunakan untuk perbaikan diri dan lingkungan, meraih segenap keutamaan dan kesempurnaan sebagai wujud pengejawantahan dari tujuan mereka diciptakan, yang dalam hal ini adalah sebagai khalifah bumi.

Apabila mereka manusia menggunakan waktu-waktu luang tersebut hanya untuk kesenangan duniawi, hiburan-hiburan atau malah kebathilan, kehidupan mereka tentunya telah keluar dari orientasi yang sebenarnya. Sebuah orientasi hidup yang oleh Islam agendakan bagi kesejahteraan hidup mereka (sa’adatuddaroin).

Jenis musik dan lagu yang sebagai implementasi dan cermin dari sisi kelam manusia, kesedihan, kesalahan dalam berfikir dan perasaan-perasaan yang menyimpang sejatinya membunuh jiwa dan ruh manusia itu sendiri. Lagu-lagu yang diperdengarkan kebanyakan ternyata memberi dampak moralitas yang lebih signifikan ketimbang dampak dari sebuah aturan norma kehidupan.

Sebuah kata bijak cina menyebutkan; “Sebelum kau ceritakan siapa pencipta norma kemanusiaan, ceritakanlah dahulu siapa pencipta lagu-lagu mereka”. Ini membuktikan bahwa musik sangat besar dampaknya pada perkembangan moralitas kehidupan manusia. Hal ini dikarenakan musik lebih mampu menyentuh jiwa bahkan mampu membuat pendengarnya melayang larut dalam imajinasi.

Jika musik-musik yang diperdengarkan pagi hingga petang itu merupakan bagian dari musik yang berdampak buruk bagi kehidupan manusia itu, maka sudah selayaknya untuk ditinggalkan demi tercapainya insan kamil yang teguh dalam koridor fitrah penciptaannya. Sayangnya dari sekian banyaknya musik dan lagu-lagu yang beredar dan mendarah daging dalam tubuh masyarakat adalah musik-musik jenis ini.

Seorang anak masih bau kencur menyanyikan sebuah lagu dewasa yang cenderung cabul kerap menjadi potret hitam lingkungan kita. Ini tentu bagian dari kemerosotan moralitas anak-anak kita yang seharusnya perlu penanganan serius. Lebih ironis lagi, orang tua mereka justru salah kaprah dengan berbangga diri menyebut itu simbol kecerdasan anak. Peka terhadap lingkungan dan mampu memberi respon menirukan goyangan-goyang para penyanyi televisi.

Kita bisa saksikan bagaimana manusia bertingkah, bergoyang, berteriak, larut dalam nada, bagaimana mereka berkhayal, kemana mereka melepas imajinasi mereka saat mendengarkan wanita/pria melantunkan lagu-lagu itu. Terlebih merasa senang dengan goyang dan pakaian-pakaian vulgar para pemanggung.

Hal ini tentu bukan merupakan ajaran Rosulullah Saw. Bukan merupakan usaha perbaikan terhadap kehidupan manusia yang dicanangkan Islam. Dan akhirnya tulisan singkat ini akan ditutup dengan sebuah ayat sebagai bahan renungan dan agar diambil ibrahnya;

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ . أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَكِنْ لَا يَشْعُرُونَ

“Dan bila dikatakan kepada mereka: “Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi”. Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan”.