Tiga Jalsah Musyawarah Kubro


IMG_0361

Setelah 2 hari lamanya para delegasi musyawarah  berjibaku dengan berbagai macam referensi kitab kuning, maka tepat pada pukul 11.45 siang, kamis 21 April 2016 pembahasan soal musyawarah kubro PP MUS harus diakhiri dengan menyelesaikan 7 nomor permasalahan dari 10 nomor yang direncanakan.

Masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya, musyawarah dilaksanakan dalam 3 jalsah/sesi pembahasan. Jalsah pertama dimulai pada Rabu siang pukul 13.00 – 16.30, kemudian jalsah kedua dimulai pada Rabu malam  pukul 20.00 – 00.00, dan jalsah terakhir dilaksanakan pada kamis pagi pukul 08.00 – 12 00.

Moderator dalam sesi pertama di-handle langsung oleh Roisul Ma’had PP MUS, Ust. M. Salim. Sementara jalsah kedua dan ketiga masing-masing dipimpin oleh Ust. M syafiq dan Ust. M. Ubaidillah.

Diantara hal yang terasa berbeda adalah, bangunan megah dengan 3 lantai yang memang disiapkan untuk menyambut acara musyawarah ini. Auditorium, dengan fasilitas ruangan yang sangat luas tentu memudahkan panitia untuk menata posisi. Seperti yang terlihat kemarin, posisi Lajnatuttashih dan Lajnatuttachrir duduk sejajar menghadap musyawirin, dengan modertor yang berposisi agak ke samping. Dilengkapi dengan dua layar proyektor yang masing-masing menghadap ke Mushohih dan Muharrir, dan yang satu menghadap lurus ke arah musyawirin.

Sementara dari 10 soal yang diagendakan, hanya 7 soal yang berhasil diselesaikan pada musyawarah kali ini. Diantara ke-7 soal tersebut, yang paling menyita waktu adalah soal yang pertama mengenai “sistem paket haji” butuh waktu satu jalsah penuh untuk dapat mencapai kesepakatan.

Adapun soal yang terpanas adalah soal yang kedua, mengenai produk penghina Islam, seperti permen, sandal, dan terompet yang banyak tertulis Kalimat Mulia, dalam penjelasan yang disampaikan oleh salah satu Musohhih, KH. Najih Maimoen tersirat kekhawatiran dan peringatan akan bahaya propaganda yahudi yang semakin gencar. Beliau menyampaikan bahwa para Kafirin, terlebih Yahudi, jangan sampai diberi celah sedikit pun untuk menghina Islam. Seperti mengajarkan anak muda kita untuk mem-plesetkan kata ‘Ya Allah’ menjadi ‘yaowo’ ‘astaghfirullahal-adhim’ menjadi ‘astajim’, dsb. Karena jika dibiarkan, mereka akan semakin menjadi-jadi.

Beliau melanjutkan, “meski belum bisa diputuskan bahwa menurut fikih itu semua bukan merupakan al-ismu al-a’dham (Nama yang mulia) yang harus kita jaga dan kita muliakan, namun setidaknya kita khawatir mereka akan semakin menginjak kita, dan ini yang seharusnya kita khawatirkan.”

Jalsah kedua ditutup dengan menyelasaikan 3 permasalahan, yaitu, Produk Penghina Islam, Berburu Makhluk Astral, dan Kebocoran Peralon. Sedangkan jalsah ke-3 yang diadakan keesokan harinya, kamis 21 April juga menyelesaikan 3 permasalahan, masing-masing membahas tentang, Tanah Yang Tertukar, Lika liku Masjid, dan Dilema Santri.

Musyawarah dihentikan pada pukul 11.45 siang, dengan total tujuh soal yang berhasil mendapatkan keputusan hukum.

Leave a comment

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *