Trilogi Kesuksesan


trilogi kesuksesan

Sudah menjadi sunnatullah jika di dunia ini tidak akan ada sesuatu yang instan. Sekecil apapun itu pasti didalamnya terdapat seribu proses yang harus dilalui untuk mendapatkannya. Keberhasilan yang didambakan, terlebih dalam mencari ilmu, akan terbang lepas dari tangan kita saat keberhasilan itu tidak pernah tersirami oleh manisnya air mata dan pengorbanan. Lelahnya perjuangan hidup yang tak kunjung usai serta pahitnya jalan terjal yang merintang takkan sebanding dengan indahnya kemenangan saat kita berhasil meraihnya.

“Niat, Tekad, Nekat”. Demikian nasihat malam dari salah satu bilik kecil kang santri. Tiga kata bernada datar, tapi boleh jadi memilikihigh power dalam menyulut api semangat bagi mereka yang tak kenal lelah membangun langkah progresif. Peran niat dalam segala aktivitaskehidupan manusia tidak bisa dipandang sebelah mata. Amaliyah seseorang akan terasa perfect jika spirit niat selalu hadir menemani perjalanannya. Karena didalam niat terkandung dua unsur penentu keberhasilan seseorang, yaitu target yang jelas dan spirit yang tinggi. Target yang jelas akan menuntun dan membimbing perjalanan aktivitasnya, sedangkan spirit yang tinggi akan memacu semangatnya untuk tidak tampil pesimis dan putus asa dalam menghadapi pasang surut kehidupan. Apabila dua unsur ini tidak ada, maka bukan tidak mungkin jika ruh amaliyah telah mati sehingga pengorbanannya pun sia-sia belaka, hampa dan kosong tak bernyawa.

Sebagian ulama mengatakan, “ilmu itu tinggi derajatnya, sulit untuk mendapatkannya, tidak bisa didapat dengan tidur dan tidak pula bisa diwaris dari orang tua. Ilmu ibarat pohon yang ditanam dalam hati dan disiram dengan belajar secara kontinu. Seorang pelajar haruslah memiliki keuletan, kesabaran dan keberanian menghidupkan malamnya dengan belajar untuk mendapatkan ilmu yang dicita-citakannya. Hanya orang-orang bodohlah yang beranggapan jika seseorang yang menghabiskan waktunya untuk kepentingan duniawi itu dapat dengan mudah menjadi seorang ahli fikih. Keberhasilan mendapatkan ilmu itu membutuhkan ketulusan niat, kebersihan hati, tidak menuhankan nafsu, semangat yang menyala-nyala dan tidak mudah bosan dalam mencari ilmu.” Alangkah bijaknya seorang penyair dengan gubahannya,

Barangsiapa yang mecari kemuliaan tanpa jerih payah

Maka sungguh dia telah membuang sia-sia umurnya

Seberapa besar jerih payahmu maka sebesar itu pula engkau diberi yang kau mau

Siapa yang ingin meraih cita-citanya maka ia tidaklah memejamkan matanya di malam hari

Tidak ada lagi yang samar dari tokoh sekaliber Imam Bukhori, ulama hadits yang tidak diragukan lagi kapasitas keilmuannya. Bahkan karya monumentalnya “shahih bukhori” telah dinobatkan oleh para ulama sebagai kitab paling shahih setelah al-Qur’an. Apa yang diraih oleh Imam Bukhori tersebut tidaklah semudah membalikkan tangan. Butuh niat yang tulus, tekad yang kuat, perjuangan dan pengorbanan untuk dapat meraihnya. Rasa cinta dan totalitas terhadap ilmu telah menghantarkan Imam Bukhori pada derajat yang tinggi, tampil berani dalam menghadapi rintangan apapun dan terus melangkah meski harus melewati jalan terjal demi mendapatkan ilmu.

Sedikit tentang tokoh inspiratif ini, saat Imam Bukhori baru berumur 16 tahun, tepatnya tahun 210 H, beliau pergi ke tanah suci Makkah bersama ibu dan saudaranya, Ahmad untuk melaksanakan ibadah haji. Setelah selesai, Imam Bukhori tidak langsung pulang bersama ibu dan saudaranya. Beliau lebih memilih menetap di Makkah sebagai kota ilmu untuk menimba ilmu kepada para ulama di tanah Hijaz (Makkah dan Madinah). Setelah enam tahun menetap di Makkah, beliau melanjutkan rihlah ilmiahnya ke seluruh penjuru dunia Islam untuk mengumpulkan dan menyeleksi hadits-hadits shahih selama 16 tahun. Beliau pernah mengatakan, “sudah dua kali aku mengunjungi Syam, Mesir dan Jazirah Arab. Ke Bashrah empat kali, menetap di Hijaz selama enam tahun dan tak terhitung lagi berapa kali aku ke Kuffah dan Baghdad untuk bertemu dengan ulama-ulama ahli hadits.” Dalam rihlah yang melelahkan itu, Imam Bukhori selalu menghimpun hadits dan ilmu pengetahuan sekaligus mencatatnya. Hampir dua puluh kali setiap malamnya beliau melakukan hal demikian. Seleksi periwayatan yang ketat, shalat sunnah dan beristikharah lebih dulu adalah tahapan yang harus dilewati Imam Bukhori sebelum hadits shahih itu termaktub dalam kitabnya.

Dari sekelumit cerita tersebut, kiranya trilogi “niat, tekad, nekat” adalah sebuah keniscayaan dalam meraih kesuksesan. Satu hal aksiomatis, jika apa yang didapatkan seseorang dengan mudah tanpa ada jerih payah didalamnya maka dirinya akan mudah sekali melupakan dan menyia-nyiakannya. Dan apa yang didapatkan dengan bersusah payah, usaha ekstra keras disertai dengan pengorbanan yang mahal maka hal itu akan selalu teringat dan membekas di hatinya. Begitu juga dengan ilmu, selama pelajar itu berusaha sekuat tenaga dalam mendapatkannya, belajar tanpa henti, selalu membuka referensi dan mengkaji setiap masalah ilmiah yang dihadapinya maka ilmu yang didapatkannya akan menancap kuat di hati dan tidak mudah lepas dari ingatannya. Oleh karenanya, jangan sampai kita mencari ilmu denganhanya berharap tanpa ada usaha nyata karena hal itu mustahil adanya. Belajar, belajar dan belajar adalah harga mati. (n@sda)