Musyawarah Kubro Resmi Ditutup

IMG_0271

Musyawarah Kubro dalam rangka memperingati Rojabiyyah dan Haul Setengah Abad selesai dengan tuntas kemarin, 21 April 2015. Tanpa menunggu lama, setelah istirahat, sholat dan makan, acara penutupan pun langsung dilaksanakan.

Tak lupa, dalam untaian acara tersebut juga dilengkapi dengan sambutan dari wakil delegasi. Saudara M. Thohir dari PP Darussalam (banyuwangi) berkesempatan untuk menyampaikan amanat istimewa ini. Tak tanggung-tanggung beliau dengan gaya ceplas-ceplosnya mengoreksi kekurangan fasilitas “tamu” yang diberikan kepada beliau. seperti ketidaktersediaan kamar mandi yang memadai, dan berbagai fasilitas lain.

“terimakasih atas gupah ungguh suguh (dialek banyuwangi) dan sebagainya, serta telah rela menyediakan tempat. Meskipun kenyataanya seperti itu” candanya, dengan disertai senyuman para hadirin.

Sementara sambutan dari panitia, disampaikan oleh Ust. Fuadi (Brebes) selaku wakil ketua panitia Musyawarah Kubro kali ini. Rasa terimakasih, permintaan maaf beliau sampaikan kepada para tamu undangan yag hadir, serta dengan sedikit “tanggapan” atas kritikan yang sebelumnya disampaikan kepada pihak panitia. “Omong sitik bener, luwih apik ketimbang ngomong akih salah”, ujar beliau.

Dan sebagai penutup, KH. Abdullah Hasyim (senori) berkenan menyampaikan sedikit pesan dan doanya. Beliau mengutip dawuh KH Abdurrrochim “mlaku-mlaku neng bali, ndelok pure iku Haram, sebab ta’dzimu sya’airil kuffar!” beliau menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah harus adanya konsistensi antara ilmiah dan amaliah. Tak hanya masuk gereja, meskipun hanya ta’dzimu Sya’airil Kuffar tapi itu sudah dianggap haram.

Seorang babul ilmi, Sayyidina Ali bin Abi tholib mengatakan ” العالم من علم بعلمه “

“Seorang yang alim adalah orang yang konsisten dengan ilmu dan amaliahnya”. Obyektifitas pemikiran dari kyai ini menyatakan bahwa, sekarang sudah banyak beredar pemio / dasar pemikiran yang tak layak dianggap sebagai pemikiran, mereka mengatakan “meskipun non muslim, tapi protective dengan rakyatnya, care, itu lebih baik daripada muslim yang korup dan tak peduli dengan orang islam”. Beliau mengajak kita untuk mencermati jargon para akademisi model seperti ini, mereka ternyata telah menyalahi aturan sebuah perbandingan. Sesuai teori komparatif, dalam membandingkan, antara yang membandingkan dan yang terbanding haruslah imbang. Lebih lanjut beliau menganalogikan statement tersebut dengan  mengatakan  “kalau dibiarkan liar, mereka  akan leluasa mengatakan, luwih apik rak usah jilbaban, celananan pendek, tapi nak ngeti lanang nangis, daripada jilbaban dodol ngonokan”. Masih dalam perkataan beliau, ” jika dibiarkan, muslimah lebih memilih non muslim, karena selain kaya, mereka juga peduli dan perhatian, daripada santri yang hanya seneng rokokan”

Beliau berpesan kepada para delegasi, bahwa antara fiqh munaqosah dan fiqh dakwah harus dibedakan, karena bagaimanapun juga seorang intelektual yang mahir beradu pendapat, pasti ia juga seorang yang idealis, itu adalah sebuah keniscayaan. Sebagai contoh, seorang intelektual yang berpendapat menurut selera masyarakat, itu bukanlah intelektual, tapi ia hanyalah seorang politikus yang mengejar pragmatisme (langkah-langkah sesaat). “cobalah, jangan kalian meneriakkan hal ini halal, ini haram, tapi subuhnya qodlo‘” ungkap beliau.

“semoga ilmu kita bermanfaat, berkah dunia dan akherat, jodohnya gampang” sebuah doa penutup dari beliau yang disambut dengan teriakan Amin dari seluruh delegasi. Dengan ini, maka Musyawarah Kubro dalam rangka memperingati Rojabiyyah dan Haul ke-50 PP MUS resmi ditutup, dan akan dilanjutkan dengan ajang kreasi santri dalam Musabaqoh yang akan diadakan esok hari.

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.